laki-laki yang benar-benar menyayangi wanita adalah laki-laki yang akan pernah mengungkapkan rasa cintanya dan sayangnya itu dalam ikatan pacaran, karena laki-laki yang sholeh akan menjaga kesucian wanita dan menjauhkan dari hasapan neraka..
jika laki-laki yang mengungkapkan perasaannya itu hanyalah nafsu belaka.
cinta sejati itu adalah saling membantu meraih surga nya allah yang kekal, bukan cinta namanya kalo bergandengan tangan menuju neraka.. karena cinta yang bermula dari dosa tak akan berakhir bahagia sedetik kau bersamanya maka serangkak kau ke neraka..
only with sufferings of life can teach the people for give resfect about goodness and the atractive of life.
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Juni 2013
proses manusia
Asal Usul ManusiaProses
pembelajaran alam pemikiran terhadap eksistensi karakter pribadi, bisa dimulai
dengan menginsafi hakekat kejadian anatomi manusia. Bahan baku jasad manusia,
bila ditelusuri kembali, memungkinkan manusia untuk membentengi diri dari sikap
arogan, sombong dan bangga diri. Nutfah yang membentuk jasad sempurna seorang
manusia, hanyalah setetes mani.Satu sel spermatozoa yang membuahi indung telur
perempuan, lewat proses engineering yang canggih, tahapan-tahapan pembentukan
anatomi manusia berjalan.Dari cairan sperma yang performa lahirnya sama sekali
jauh dari keindahan itulah manusia diciptakan. Coba tuangkan sesendok air di
telapak tangan, kemudian amati dan bayangkan bahwa dari cairan sejenis air
itulah organ tubuh kita dibuat. Artinya : Bukankah keadaannya dahulu hanya
setetes mani yang dipancarkan ke dalam rahim ?. (Qs.75 : 37). Artinya: Apakah
manusia itu mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja 1), tanpa pertanggungan
jawab ? (Qs. 75 : 36)Mampukah kita melihat bahwa dalam setetes sperma itu
terdapat tangan, hidung, mata, telinga, kaki, jantung, tulang-tulang, batok
kepala dan organ lainnya ? Adakah kepandaian, kelincahan, kecantikan,
ketampanan yang sering disombongkan itu ? Di mana jabatan, pangkat, ilmu dan
harta kekayaan yang sering dijadikan pijakan untuk membanggakan diri dan
meremehkan manusia lain ? Tidak ada satu hal pun yang bisa dibanggakan dari
setetes mani yang menjijikkan itu.Lalu kenapa ketika sebuah perpaduan
organ-organ itu telah terbentuk dan berkembang menjadi tubuh yang sempurna,
manusia sering lupa, dari mana mereka diciptakan. Hidung mancung, otak brilian,
wajah tampan, cantik membuat manusia lupa asal kejadiannya, kemudian berjalan
dengan angkuh. Jabatan, gelar dan harta ternyata mampu menyilaukan manusia
serta membuatnya buta akan kelemahannya. Menepuk dada karena tidak kunjung
sanggup menyadari bahwa semua itu bukan miliknya.Dari situ seharusnya kita malu
dengan pribadi kita selama ini yang masih sering dijangkiti sifat ke-aku-an,
sombong dan tinggi hati. Cobalah kita renungkan, dengan bahan baku kita yang
hanya setetes cairan mani itu, sesungguhnya alasan apakah yang mendorong kita
untuk berani merasa hebat, superior dari yang lain atau egosentris ? Dari sudut
pandang manakah manusia menilai, sehingga mereka merasa pantas disanjung dan
dikhlutuskan ?Sebaiknya kita mulai mencari, dari mana sebenarnya dorongan
sombong, ingin dipuji, tertutup dari kritik, dan merasa lebih tinggi dari yang
lain. Karena ada makhluk lain yang mula-mula mengawali memakai kesombongan sebagai
pakaiannya. Dialah syaitan satu-satunya musuh manusia dalam permainan hidup
ini. Dan syaitan pulalah yang pernah berjanji dan meminta izin Tuhan untuk
menjadikan manusia sombong dan lupa bersyukur.Karenanya, mari kita ajak diri
ini untuk bertafakkur sampai jiwa ini benar-benar terduduk lalu bersujud.
Sehingga terhindar dari bujukan dan serangan syaitan yang selalu mendongakkan
kepala karena kecongkakan. Untuk hal ini kita dibantu Allah agar mampu
menyegarkan ingatan terhadap siapa sebenarnya kita ini. Hendaklah manusia
merenungkan dari benda apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang
memancar, keluar dari antara tulang pinggul dan tulang rusuk. (Qs. 86 :
5-7)Peringatan Allah tersebut disampaikan berkaitan dengan tingkah manusia
sudah melampaui batas. Ketika dengan tak tahu diri, manusia mencuri baju
kebesaran Tuhan dan memakainya. Pakaian itu adalah kesombongan. Di mana hanya
Allah-lah yang berhak sombong dan hanya DIAlah yang paling berhak menyandang
semua gelar kebesaran dan segala bentuk pujian.Namun manusia dengan segala
kenaifannya, lupa diri dan ikut-ikutan menyombongkan diri dan minta dipuji.
Dengan ketampanan dan kecantikan, kita lalai untuk bersyukur. Jabatan dan
pangkat melahirkan sifat kebal kritik. Ilmu yang dimiliki menutupi akal budi dari
masukan pihak lain. Harta kekayaan melupakan kita dari mengingat Allah dan
perbekalan hari akhirat.Kesadaran yang rendah terhadap konsep setetes mani juga
menjadikan manusia lupa bahwa manusia lain adalah saudara, karena berasal dari
zat yang sama. Sehingga jangan heran bila kemudian banyak terjadi persaingan,
permusuhan dan bentrokan. Hilang sudah jiwa kasih sayang antar sesama bersamaan
dengan hilangnya kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara.Dulu hanya
setetes mani, kemudian menjadi jasad sempurna dan sekarang merasa berhak
mengatur hidupnya tanpa mempedulikan Sang Pencipta, sudah seberani itukah
sampean semua? Perhatikan firman Allah berikut: Dan apakah manusia tidak
memperhatikan bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian
menjadi musuh Kami seterang-terangnya. Qs. 36:77. Beranikah pembaca tergolong
sebagai musuh Allah? Saya berlindung dari status itu._____Ya Allah,jadikanlah
kami menjadi hamba yang bersukur atas segala Rizki yang kau beri,dan
mudahkanlah rizki kami ya Allah.*Aamiin*
akhlak
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak diartikan
sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya
sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat
dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan
dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering
diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan
tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
Dalam Encyclopedia
Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai
arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat
diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.
Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan
seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi
dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan
akhlak yang utama, budi yang tinggi.
Akhlak berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.
Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak
secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama
telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk
mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki
akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang.
Akhlak bermasyarakat
Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak
dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan,
kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang
sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak
dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi
berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling
mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar
dan tertib jika
tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti
aturan-aturan yang sesuai dengan norma-
norma kesusilaan yang berlaku.
Akhlak bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga
masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk
kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan
penanggungan yang sama.
Akhlak beragama
Akhlak ini merupakan akhlak
atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak
sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal
dengan sesama makhluk Tuhan.
Macam macam Akhlak
Mahmudah (terpuji)
A. Takut kepada Allah
B. Berharap Kepada ALLAh
C. Taubat dan Nadam
D. Tawadu'
E. Tawakal Kepada Allah
F. Ridho Terhadap Qodho dan Qodar
Macam macam Akhlak Madzmumah (Tercela)
A. Kufur
B. Syirik
AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI) Akhlak Terpuji untuk Diri sendiri
A. Sabar
B. Ikhlas
C. 'Iffah
D. Qona'ah
E. Istiqomah
Akhlak Hamidah Untuk Orang lain
A. Sidiq
B. Dermawan dan belas kasih
C. Memenuhi janji
D. Sopan dan rendah hati
E. Tasamuh
AKHLAK MADZMUMAH (TERCELA)
Akhlak Madzmumah bagi diri sendiri
A. 'Ujub
B. Sombong dan Takabur
C. Riya'
D. Lemah dan Malas
Akhlak Madzmumah Bagi orang lain
A. Dendam
B. Dengki
C. Penipuan
D. Bohong
E. Khianat
Pemahaman Etika
A. Takut kepada Allah
B. Berharap Kepada ALLAh
C. Taubat dan Nadam
D. Tawadu'
E. Tawakal Kepada Allah
F. Ridho Terhadap Qodho dan Qodar
Macam macam Akhlak Madzmumah (Tercela)
A. Kufur
B. Syirik
AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI) Akhlak Terpuji untuk Diri sendiri
A. Sabar
B. Ikhlas
C. 'Iffah
D. Qona'ah
E. Istiqomah
Akhlak Hamidah Untuk Orang lain
A. Sidiq
B. Dermawan dan belas kasih
C. Memenuhi janji
D. Sopan dan rendah hati
E. Tasamuh
AKHLAK MADZMUMAH (TERCELA)
Akhlak Madzmumah bagi diri sendiri
A. 'Ujub
B. Sombong dan Takabur
C. Riya'
D. Lemah dan Malas
Akhlak Madzmumah Bagi orang lain
A. Dendam
B. Dengki
C. Penipuan
D. Bohong
E. Khianat
Pemahaman Etika
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan
ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral.
Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis,
mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral
melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).
FUNGSI ETIKA
Etika tidak langsung membuat manusia menjadi
lebih baik, itu ajaran moral, melainkan etika merupakan sarana untuk memperoleh
orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan. Etika
ingin menampilkan keterampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk
berargumentasi secara rasional dan kritis. Orientasi etis ini diperlukan dalam
mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Pluralisme moral diperlukan
karena:
a. pandangan moral yang berbeda-beda karena
adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;
b. modernisasi membawa perubahan besar dalam
struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan
moral tradisional;
c. berbagai ideologi menawarkan diri sebagai
penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana
manusia harus hidup.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami
bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :
1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha
meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang
dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika
deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang
prilaku atau sikap yang mau diambil.
2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha
menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh
manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi
penilaian sekaligus member norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan
diputuskan.
Etika secara umum dapat dibagi menjadi :
a. ETIKA UMUM
berbicara mengenai
kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana
manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral
dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam
menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di
analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan
teori-teori.
b. ETIKA KHUSUS
Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar
dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana
saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan
khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip
moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai
perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang
dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara
bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta
prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
1) Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban
dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
2) Etika sosial, yaitu berbicara mengenai
kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
SISTEM PENILAIAN ETIKA :
a) Titik berat penilaian etika sebagai suatu
ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila.
b) Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah
menjadi sifat baginya atau telah mendarah daging, itulah yang disebut akhlak
atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam
bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya
adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati,
sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata.
Bertingkahlaku sesuai Sunah
dan Al qur’an Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang
bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan,
perbuatan maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam
Islam, karena Allah Ta’ala menjadikan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai penjelas dan penjabar dari Al Qur’an yang mulia,
yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu,
tanpa memahami sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu
al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka (dari Allah Ta’ala), supaya mereka memikirkan.” (Qs. An
Nahl: 44)
Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab, “Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al Qur’an.” (HSR Muslim no. 746). Ini berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya. (Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan Al Qur’an dan agama Islam secara keseluruhan.
Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan makna) al-Qur’an.” (Ushuulus Sunnah, hal. 3)
Oleh karena itulah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendefinisikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan. (Lihat Jaami’ul Uluumi wal Hikam, hal. 321)
Imam Abu Muhammad al-Barbahari berkata, “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.” (Syarhus Sunnah, hal. 59)
Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab, “Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al Qur’an.” (HSR Muslim no. 746). Ini berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya. (Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan Al Qur’an dan agama Islam secara keseluruhan.
Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan makna) al-Qur’an.” (Ushuulus Sunnah, hal. 3)
Oleh karena itulah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendefinisikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan. (Lihat Jaami’ul Uluumi wal Hikam, hal. 321)
Imam Abu Muhammad al-Barbahari berkata, “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.” (Syarhus Sunnah, hal. 59)
taqwa
1.
PENGERTIAN TAQWA
Takwa
yang telah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab
taqwa. Menurut penelitian al-Muqaddasi
(Beirut, 1323) di dalam al-Qur’an terdapat 256 kata takwa pada 251 ayat dalam
berbagai hubungan dan variasi makna. Akar katanya adalah w.q.y., artinya antara
lain: takut, menjaga diri, memelihara, tanggung jawab dan memenuhi kewajiban.
karena itu, orang yang bertakwa adalah
orang yang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran: mengerjakan
suruhan-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, takut terjerumus ke dalam perbuatan
dosa. Orang yang takwa adalah orang yang menjaga (membentengi) diri dari
kejahatan; memelihara diri agar tidak melakukan perbuatan yang tidak diridai
Allah; bertanggung jawab mengenai sikap, tingkah laku dan perbuatannya, dan memenuhi
kewajiban.
Dari
berbagai makna yang dikandung perkataan takwa itu, dalam bukunya Keterangan
Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakkal, cendekiawan muslim Indonesia
almarhum Haji Agus Salim, merumuskan makna takwa dengan mempergunakan
memelihara sebagai titik tolak. Menurut H.A. Salim, takwa adalah sikap mental
seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu dalam rangka
memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan perbuatan yang
baik dan benar, pantang berbuat salah dan melakukan kejahatan terhadap orang
lain, sendiri dan lingkungannya (Gazalba, 1976: 46).
2.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Hubungan
mansuia dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai dimensi takwa pertama,
menurut ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa seperti telah disinggung pada awal
kajian ini, merupakan prima causa hubungan-hubungan yang lain.
Ketakwaan
atau pemeliharaan hubungan dengan Allah dapat dilakukan antara lain sebagai
contoh :
1. Beriman kepada Allah.
2. Beribadah kepada-Nya dengan jalan
melaksanakan shalat lima kali sehari semalam.
3. Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan
menerima, mengurus, memanfaatkan semua pemberian Allah kepada mansuia.
4. Bersabar menerima cobaan Allah dalam
makna tabah, tidak putus asa ketika mendapat musibah atau menerima bencana.
5. Memohon ampun atas segala dosa dan
tobat dalam makna sadar untuk tidak lagi melakukan segala perbuatan jahat atau
tercela.
3.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN HATI NURANI ATAU DIRINYA SENDIRI
Hubungan manusia dengan hati nurani atau diri sendiri sebagai dimensi
takwa yang kedua dapat dipelihara dengan jalan menghayati benar patokan-patokan
akhlak, yang disebutkan Tuhan dalam berbagai ayat al-Qur’an. Diantaranya :
sbar, pemaaf, adil, ikhlas, berani, memegang amanah, mawas diri, dan
mengembangkan semua sikap yang terkandung dalamakhlak aau budi pekerti yang
baik.
4.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMA MANUSIA
Hubungan manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat dapat dipelihara,
antara lain dengan : tolong menolong, bantu membantu, suka memaafkan kesalahan
orang lain, menepati janji, lapang dada, dan menegakkan keadilan dan berlaku
adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
5.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN HIDUP
Konsekuensi
dari empat pemeliharaan hubungan dalam rangka ketakwaan tersebut adalah bahwa
manusia harus selalu menumbuhkan dan mengembangkan dalam dirinya empat T yakni
empat (kesadaran) tanggung jawab yaitu :
1.
Tanggung jawab kepada Allah.
2.
Tanggung jawab kepada hati nurani sendiri
3.
Tanggung jawab kepada manusia lain
4.
tanggung jawab untuk memelihara lingkungan
Takwa
dalam makna memenuhi kewajiban perintah Allah yang menajdi kewajiban manusia
takwa untuk melaksanakannya pada pokoknya adalah :
1.
Kewajiban kepada Allah
Kewajiban
ini harus ditunikan manusia, untuk memenuhi tujuan hidup dan kehidupannya di
dunia ini yakni mengabdi kepada Ilahi, “Tidak kuciptakan jin dan manusia,
kecuali untuk mengabdi kepadaKu,” demikian makna firman Tuhan dalam al-Qur’an
surat az-Dzariyat (51) ayat 56.
Misalnya
: kewajiban shalat, kewajiban zakat, kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang
mampu.
2.
Kewajiban kepada diri sendiri
Kepajiban
kepada diri sendiri adalah fardu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimat untuk
melakukannya.
3.
Kewajiban kepada masyarakat
Kewajiban
ini merupakan dimensi ketiga pelaksanaan takwa. Kewajiban ini mulai dari :
a.
Kewajiban terhadap keluarga
b.
Kewajiban terhadap tetangga
c.
Kewajiban terhadap masyarakat luas
d.
Kewajajiban terhadap negara
4.
Kewajiban terhadap lingkungan hidup
Kewajiban
terhadap lingkungan hidup dapat disimpulkan dari pernyataan Tuhan dalam
al-Qur’an yang menggambarkan kerusakan yang telah terjadi di daratan dan
dilautan, karena (ulah) tangan manusia, yang tidak mensyukuri kurnia Ilahi.
Untuk mencegah derita yang dirasakan oleh manusia, sepertri yang terjadi di
Afrika, manusia wajib memelihara kelestarian lingkungan.
B. Cara Meningkatkan Taqwa
Mengapa kita perlu bertaqwa, memperkokoh dan
meningkatkan ketaqwaan kepada Allah; di antara alasannya ialah firman Allah
dalam surat ali- Imran ayat 102: Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah
kamu kepada Allah dengan sebenar- benar takwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu
mati kecuali dalam keadaan mu slim (berserah diri kepada Allah). Kemudian
terdapat dalam surat al- Hujurat ayat 13; Allah berfirman: Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu. Dari firman Allah tersebut, Allah menjelaskan perlunya bertaqwa
itu yaitu dapat menjalani kehidupan dengan baik dan menjadi kunci utk
mendapatkan keselamatan dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat; kemudian
takwa menjadi ukuran kemuliaan seseoran di sisi Allah dan menurut pandangan
manusia. Untuk memperkokoh dan meningkatkan kadar ketakwaan kita kepada Allah,
ada beberapa cara yaitu: Pertama; dengan al- mu’ahadah yaitu ingat dengan
perjanjian kita kepada Allah swt. Janji itu sering kita ikrarkan, misal ketika
kita shalat paling sedikit 17 kali kita berjanji kepada Allah untuk menyembah
hanya kepada Allah dan minta pertolongan; baahkan setiap kita membaca surat
al-Fatihah ayat 5: Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami mohon
pertolongan. Dengan demikian, setiap kita sudah berjanji untuk menjalankan
kehidupan ini dengan sesuatu yang bernilai ibadah dan Allah sesungguhnya
menciptakan manusia ini dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Tentunya
ibadah yang dimaksudkan tidak hanya terbatas pada ibadah shalat, puasa, dzkir
dan sejenisnya, melainkan seluruh kegiatan kita dari pagi sampai pagi lagi,
semua harus bernilai ibadah. Agar semua kegiatan kita bernilai ibadah, tentunya
dengan syarat bahwa kegiatan itu benar, baik dan dikerjakan dengan niat yang
ikhlas, cara yang benar serta dengan tujuan hanya mengharap ridha Allah swt.
Kedua; dengan al- muraqabah yaitu merasa dekat kepada Allah swt. Hal ini perlu
karena orang akan merasakan bahwa dia selalu diawasi oleh Allah dan membuatnya
selalu berfikir sebelum berbuat dan tidak berani menyimpang dari jalan yang
telah diatur-Nya. Sikap ini mutlak harus dilakukan , karena sebenarnya Allah
itusangat dekat dengan kita, sesuai dengan firman Allah swt dalam surat
al_hadid ayat 4: Dan Allah bersama kamu dimana saja kamu berada; dan Allah maha
melihat apa yang kamu kerjakan. Bahkan dalam ayat yang lain, dalam surat
al-Mujadilah ayat 6: yang intinya ayat ini menjelaskan bahwa tidaklah kamu
perhatikan yang ada dilangit dan di bumi. Tiada pembicaraan rahasia anatar tiga
orang, melainkan Allahlah yang keempatnya; dan tiada pembicaraan antara lima
orang melainkan Allah yang keenamnya; dan tiada pembicaraan antara jumlah yang
kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Allah ada bersama mereka dimanapun
mereka berada; Kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat
apa yang telah mereka kerjakan; sesungguhnya Allah maha mengetahui segala
sesuatu. Ketiga; dengan al- Muhasabah atau menghitung- hitung diri, introspeksi
diri yang juga merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi kelak amal
manusia akan hitung oleh Allah swt; karena itu sebelumnya manusia harus
menghitung sendiri amal- amalnya agar dia tahu apakah selama ini dia lebih
banyak amal shaleh atau amal salah. Sahabat nabi Umar ibnu Khattab pernah
mengingatkan dalam ungkapannya: Hisablah disi kalian sebelum kalian dihisab di
kahirat. Oleh karena itu, ada baiknya seorang muslim melakukan muhasabah setiap
hari, misalnya menjelasng tidur, dia merenungi apa yang diperjuangkan pada hari
it atau setiap jum’at sekali atau sebulan dan minimal setahun, dia dapat
meningkatkan kualitas hidupnya untuk bekal waktu yang akan datang termasuk
kehidupan di akahira nantinya. Firman Allah surat al-Hasr ayat 18: Hai orang-
orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yanv telah di perbuatnya untuk hari akhirat, dan bertaqwalah
kepada Allah; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Keempat; dengan al- mu’aqabah yaitu memberikan sangsi atau menghukum dirinya
sendiri bila tidak melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan, apalagi jika
sampai melakukan maksiat. Perlunya sangsi ini diberlakukan pada diri seseorang
muslim, karena akan membatasi jangan sampai mempermudah terlanggarnya
kesalahan- kesalahan yang lain. Kelima; dengan al- mujahadah yaitu bersungguh
sungguh dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini karena Islam memang harus
dilakukan dengan penuh kesungguhan; Tanpa kesungguhan, sangat sulit seorang
dapat melakukan ajaran Islam. Shalat misalnya memerlukan kesungguhan, begitu
juga berinfaq, apalagi berjihad di jalan Allah. Jika seseorang telah memiliki
kesungguhan, meskipun nantinya akanmenghadapi kesulitan dalam beramal, Allah
swt akan memberikan kemudahan baginya dalam mengahdapi kesulitan itu. Allah
berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 69: Dan orang- orang yang berjihad untuk
mencari keridhaan Allah, benar- benar akan Allah tunjukkan kepada mereka jalan-
jalan Allah. Dan sesungguhnya Allah benar- benar beserta orang- orang yang
bwerbuat baik. Dengan demikian, ketaqwaan kepada Allah harus kita mantapkan
terus karena dengan demikian seorang muslim, akan memperoleh kebahagiaan yang
hakiki di dunia dan akhirat.
C.
Mengamalkan dan Memelihara Ketaqwaan
Allah SWT senantiasa menjunjung tinggi
ketingkat yang lebih atas terhadap siapa saja yang mau meningkatkan keimanan
dan ketaqwaannya. Untuk itu teramat penting bagi kita untuk terus menjaga dan
memelihara iman dan taqwa kita agar kita bisa terhindar dari berbagai macam
cobaan, terhindar dari beraneka ragam godaan yang datang dari segala penjuru,
setiap saat dan tak mengenal waktu. Sebagai seorang muslim janganlah mudah
meratap jika ada musibah dan jangan sedih kalau ada bahaya menimpa. Ingat pada
Allah yang Kuasa sebab Dialah yang mengatur segalanya. Apa yang dijalaninya
sudah tertera dalam suratan sesuai dengan qadha’ dan qadar Nya. Manusia hanya
merencana dan berusaha namun Allah jualah yang menentukan segalanya.
Taqwa adalah urusan hati dan
merupakan hal yang rahasia sehingga hakikat taqwa adalah menjauhkan dan
memelihara diri dari laknat Allah, caranya adalah
a. Mentaati
perintah Allah dengan beramal shaleh untuk mendapatkan ridho Allah
b. Menjauhi
larangan Nya agar terhindar dari hukuman Allah.
c. Menjaga
diri dari segala sesuatu yang berakibat negatif sehingga tidak terjerumus
kepada perkara dosa
d. Bersedia
membersihkan diri dari berbagai tindakan yang diharamkan
Adapun ciri-ciri orang yang bertaqwa secara
ringkas adalah sebagai berikut :
a. Ikrar
diri bahwa Allah adalah Esa serta beriman dengan hal-hal yang ghaib yang tidak
mampu ditangkap dengan panca indra seperti perkara malaikat, sorga dan neraka,
alam kubur, padang mashar dan sebagainya.
b. Patuh
dan taat dalam mengamalkan tuntunan dan ajaran Allah seperti sholat, zakat,
puasa dan amalan lain yang telah ditetapkan Nya.
c. Menjauhi
larangan dan hal-hal yang dimurkai Allah
d. Memelihara
diri agar bisa mengamalkan baik melalui tulisan, ucapan ataupun tindakan
tentang apa yang diteladani oleh Rasulullah, misalnya tuntunan sholat dan
gerakannya yang tidak terdapat dalam Al Qur’an diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW.
e. Berbakti
kepada orang tua.
f. Ringan
tangan dalam membantu orang yang memerlukannya.
Itulah sebabnya maka dalam aplikasi kehidupan
sehari-hari, dalam bekerja, dalam berumah tangga, bermasyarakat, menjalin cinta
kasih, mencari ilmu, mencari nafkah dan menafkahkan harta serta tolong menolong
diantara sesama harus dilandasi iman dan taqwa. Perwujudan taqwa akan memancar
dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan amal shaleh, taat menjalankan perintah
Allah dan berbuat kebajikan dengan sesamanya. Dijelaskan bahwa penuh dengan
kesungguhan Allah yang Rahman dan Rahim sangat mencintai hambanya yang taqwa. Siapa
yang menyuruh kita beriman dan bertaqwa ? Tidak lain adalah Allah yang Maha
Kuasa. Kalau demikian maka siapa yang tidak mau melaksanakan dan dengan alasan
apapun berita-berita kebenaran yang telah ditebarkan ditengah keramaian
kehidupan manusia pasti akan mengalami kesengsaraan kelak diakhirat nanti
dengan penuh kepedihan dan bagi yang bertaqwa kepada Allah, tiada lain kelak
akan menikmati kemuliaan, keindahan dan kenyamananan tanpa batas ditempat yang
sangat terhormat yaitu Taman Firdaus Sorga Jannatun Naim . Taqwa mendorong manusia untuk bisa
bekerja sama dalam kebaikan dan selalu menolak suatu kegiatan yang mendatangkan
dosa. Derajat taqwa lebih tinggi bila dibandingkan dengan derajat iman, sebab
orang yang beriman belum tentu bertaqwa, tapi orang yang bertaqwa berarti
tingkat keimanannya cukup tinggi. Banyak orang beriman tapi tidak mau beramal
shaleh, misalnya tidak mau mengerjakan sholat, tidak mau membayar zakat dan
lain sebagainya sehingga ada seruan agar orang yang telah beriman lengkapilah
dengan taqwa. Taqwa terletak dihati manusia yang berakal. Kombinasi gerak
antara otak dan hati inilah yang menjadikan orang tergerak untuk bertaqwa
kepada Allah atau bahkan menentang perintah Nya.
hubungan manusia dengan agama
A. Pengertian Agama
Agama menurut bahasa sangsakerta, agama berarti tidak kacau (a =
tidak gama = kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat
membebaskan manusia dari kekacauan. Didunia barat terdapat suatu istilah umum
untuk pengertian agama ini, yaitu : religi, religie, religion, yang berarti
melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian, perbuatan
ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang.
Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu addiin yang
berarti : hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan
pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa “addiin” merupakan
pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya
dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaatan tersebut
(Moh. Syafaat, 1965).
Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syari’ati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi.
Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syari’ati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi.
Sedangkan menurut M. Natsir agama merupakan suatu kepercayaan dan
cara hidup yang mengandung faktor-faktor antara lain :
a. Percaya kepada Tuhan
sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup.
b. Percaya kepada wahyu
Tuhan yang disampaikan kepada rosulnya.
c. Percaya dengan adanya
hubungan antara Tuhan dengan manusia.
d. Percaya dengan hubungan
ini dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari.
e. Percaya bahwa dengan
matinya seseorang, hidup rohnya tidak berakhir.
f. Percaya dengan ibadat
sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan.
g. Percaya kepada keridhoan
Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini.
Sementara agama islam dapat diartikan sebagai wahyu Allah yang
diturunkan melalui para Rosul-Nya sebagai pedoman hidup manusia di dunia yang
berisi Peraturan perintah dan larangan agar manusia memperoleh kebahagaian di
dunia ini dan di akhirat kelak.
B. Konsepsi Agama
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Bakoroh 208, Allah
berfirman :
يايها الدين امنواادخلوا فى السلم كافة ولاتتبعوا خطوت الشيطن انه لكم عد ومبين
Artinya : Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara utuh, keseluruhan (jangan sebagian-sebagaian) dan jangan kamu mengikuti langkah setan, sesunggungnya setan itu musuh yang nyata bagimu.
Kekaffahan beragama itu telah di contohkan
oleh Rosulullah sebagai uswah hasanah bagi umat islam dalam berbagai aktifitas
kehidupannya, dari mulai masalah-masalah sederhana (seperti adab masuk WC)
samapi kepada masalah-masalah komplek (mengurus Negara). Beliu telah
menampilkan wujud islam itu dalam sikap dan prilakunya dimanapun dan kapanpun
beliu adalah orang yang paling utama dan sempurna dalam mengamalkan ibadah
mahdlah (habluminallah) dan ghair mahdlah (hablumminanas).
Meskipun beliau sudah mendapat jaminan maghfiroh (ampunan dari dosa-dosa) dan masuk surga, tetapi justru beliau semakin meningkatkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah seperti shalat tahajud, zdikir, dan beristigfar. Begitupun dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia beliu menampilkan sosok pribadi yang sangat agung dan mulia.
Meskipun beliau sudah mendapat jaminan maghfiroh (ampunan dari dosa-dosa) dan masuk surga, tetapi justru beliau semakin meningkatkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah seperti shalat tahajud, zdikir, dan beristigfar. Begitupun dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia beliu menampilkan sosok pribadi yang sangat agung dan mulia.
Kita sebagai umat islam belum semuanya
beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang
pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh
nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam
itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW.
Diantara umat islam masih banyak yang menampilkan sikap dan
prilakunya yang tidak selaras, sesuai dengan nila-nilai islam sebagai agama
yang dianutnya. Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan kejadian atau
peristiwa baik yang kita lihat sendiri atau melalui media masa mengenai
contoh-contoh ketidak konsistenan (tidak istikomah) orang islam dalam
mempedomani islam sebagai agamanya.
C. Hubungan Agama Dan Manusia
C. Hubungan Agama Dan Manusia
Kondisi umat islam dewasa ini semakin diperparah dengan merebaknya
fenomena kehidupan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan prilaku yang a moral
atau degradasi nilai-nilai keimanannya.
Fenomena yang cukup berpengaruh itu adalah :
Fenomena yang cukup berpengaruh itu adalah :
1. Tayangan media televisi
tentang cerita yang bersifat tahayul atau kemusrikan, dan film-film yang berbau
porno.
2. Majalah atau tabloid
yang covernya menampilkan para model yang mengubar aurat.
3. Krisis ketauladanan dari
para pemimpin, karena tidak sedikit dari mereka itu justru berprilaku yang
menyimpang dari nilai-nilai agama.
4. Krisis silaturahmi
antara umat islam, mereka masih cenderung mengedepankan kepentingan kelompoknya
(partai atau organisasi) masing-masing.
Sosok pribadi orang islam seperti di atas
sudah barang tentu tidak menguntungkan bagi umat itu sendiri, terutama bagi
kemulaian agama islam sebagai agama yang mulia dan tidak ada yang lebih mulia
di atasnya. Kondisi umat islam seperti
inilah yang akan menghambat kenajuan umat islam dan bahkan dapat
memporakporandakan ikatan ukuwah umat islam itu sendiri.
Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat
yang mampu menwujudkan misi “Rahmatan lil’alamin” maka seyogyanya mereka
memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam
tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga
dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan mampu
mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan makna esensial ibadah
itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti :
pengendalian diri, sabar, amanah, jujur, sikap altruis, sikap toleran dan
saling menghormatai tidak suka menyakiti atau menghujat orang lain. Dapat juga
dikatakan bahwa umat islam harus mampu menyatu padukan antara mila-nilai ibadah
mahdlah (hablumminalaah) dengan ibadag ghair mahdlah (hamlumminanas) dalam
rangka membangun “Baldatun thaibatun warabun ghafur” Negara yang subur makmur
dan penuh pengampunan Allah SWT.
D. Agama Sebagai Petunjuk Tata Sosial
D. Agama Sebagai Petunjuk Tata Sosial
Rosulullah SAW bersabda : “Innamaa bu’itstu
liutammima akhlaaq” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Yang bertanggung jawab terhadap pendidikan akhlak adalah orang
tua, guru, ustad, kiai, dan para pemimpin masyarakat.
Pendidikan akhlak ini sangat penting karena
menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh seorang muslim dalam
kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor,
dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat
penting dimiliki oleh setiap muslim (masyarakat sebab maju mumdurnya suatu
bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut.
Untuk mencapai maksud tersebut maka perlu
adanya kerja sama yang sinerji dari berbagai pihak dalam menumbuhkembangkan
akhlak mulya dan menghancur leburkan faktor-faktor penyebab maraknya akhlak
yang buruk.
Selasa, 07 Mei 2013
Adab Bergaul dengan Lawan Jenis
Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur
seluk-beluk kehidupan manusia, bagaimana pergaulan antara lawan jenis. Di
antara adab bergaul antara lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh
agama kita adalah:
1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis
Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki beriman:
Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30). Allah juga berfirman
yang artinya,”Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan
pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.
an-Nur: 31)
2. Tidak berdua-duaan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki
berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
3. Tidak menyentuh lawan jenis
Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak
pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia
kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).
Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu
perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk
dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak
halal baginya.” (HR. Thabrani
dengan sanad hasan)
Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih
terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.
Salah Kaprah Dalam Bercinta
Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai
pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak
terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan
maut yang dikenal dengan “pacaran“.
Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam
perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang
buruk.” (QS. al-Isra’: 32). Lalu
pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi
pintu pacaran?!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk
anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah
dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa
berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan
atau mendustakannya.” (HR.
Bukhari & Muslim). Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang
memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah
orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah
saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah
dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah
orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya?
Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah
penyesalan. Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya
menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas
keberhasilan usahanya….
Iblis, Sang Penyesat Ulung
Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya
untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran
gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita
ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan
semua manusia. Iblis berkata, “Demi
kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad: 82). Termasuk di antara
alat yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,”Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya
bagi laki-laki daripada wanita.” (HR.
Bukhari & Muslim). Kalaulah Iblis tidak berhasil merusak agama seseorang
dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin
cukuplah bagi Iblis untuk bisa tertawa dengan membuat mereka berpacaran lewat
telepon, SMS atau yang lainnya. Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran
seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang
masalah agama kepada lawan jenisnya, miss called atau SMS pacarnya untuk bangun
shalat tahajud dan lain-lain.
Ringkasnya sms-an dengan lawan jenis, bukan saudara
dan bukan karena kebutuhan mendesak adalah haram dengan beberapa alasan: (a)
ini adalah semi berdua-duaan, (b) buang-buang pulsa, dan (c) ini adalah jalan
menuju perkara yang haram. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk
menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya
Langganan:
Postingan (Atom)

