Asal Usul ManusiaProses
pembelajaran alam pemikiran terhadap eksistensi karakter pribadi, bisa dimulai
dengan menginsafi hakekat kejadian anatomi manusia. Bahan baku jasad manusia,
bila ditelusuri kembali, memungkinkan manusia untuk membentengi diri dari sikap
arogan, sombong dan bangga diri. Nutfah yang membentuk jasad sempurna seorang
manusia, hanyalah setetes mani.Satu sel spermatozoa yang membuahi indung telur
perempuan, lewat proses engineering yang canggih, tahapan-tahapan pembentukan
anatomi manusia berjalan.Dari cairan sperma yang performa lahirnya sama sekali
jauh dari keindahan itulah manusia diciptakan. Coba tuangkan sesendok air di
telapak tangan, kemudian amati dan bayangkan bahwa dari cairan sejenis air
itulah organ tubuh kita dibuat. Artinya : Bukankah keadaannya dahulu hanya
setetes mani yang dipancarkan ke dalam rahim ?. (Qs.75 : 37). Artinya: Apakah
manusia itu mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja 1), tanpa pertanggungan
jawab ? (Qs. 75 : 36)Mampukah kita melihat bahwa dalam setetes sperma itu
terdapat tangan, hidung, mata, telinga, kaki, jantung, tulang-tulang, batok
kepala dan organ lainnya ? Adakah kepandaian, kelincahan, kecantikan,
ketampanan yang sering disombongkan itu ? Di mana jabatan, pangkat, ilmu dan
harta kekayaan yang sering dijadikan pijakan untuk membanggakan diri dan
meremehkan manusia lain ? Tidak ada satu hal pun yang bisa dibanggakan dari
setetes mani yang menjijikkan itu.Lalu kenapa ketika sebuah perpaduan
organ-organ itu telah terbentuk dan berkembang menjadi tubuh yang sempurna,
manusia sering lupa, dari mana mereka diciptakan. Hidung mancung, otak brilian,
wajah tampan, cantik membuat manusia lupa asal kejadiannya, kemudian berjalan
dengan angkuh. Jabatan, gelar dan harta ternyata mampu menyilaukan manusia
serta membuatnya buta akan kelemahannya. Menepuk dada karena tidak kunjung
sanggup menyadari bahwa semua itu bukan miliknya.Dari situ seharusnya kita malu
dengan pribadi kita selama ini yang masih sering dijangkiti sifat ke-aku-an,
sombong dan tinggi hati. Cobalah kita renungkan, dengan bahan baku kita yang
hanya setetes cairan mani itu, sesungguhnya alasan apakah yang mendorong kita
untuk berani merasa hebat, superior dari yang lain atau egosentris ? Dari sudut
pandang manakah manusia menilai, sehingga mereka merasa pantas disanjung dan
dikhlutuskan ?Sebaiknya kita mulai mencari, dari mana sebenarnya dorongan
sombong, ingin dipuji, tertutup dari kritik, dan merasa lebih tinggi dari yang
lain. Karena ada makhluk lain yang mula-mula mengawali memakai kesombongan sebagai
pakaiannya. Dialah syaitan satu-satunya musuh manusia dalam permainan hidup
ini. Dan syaitan pulalah yang pernah berjanji dan meminta izin Tuhan untuk
menjadikan manusia sombong dan lupa bersyukur.Karenanya, mari kita ajak diri
ini untuk bertafakkur sampai jiwa ini benar-benar terduduk lalu bersujud.
Sehingga terhindar dari bujukan dan serangan syaitan yang selalu mendongakkan
kepala karena kecongkakan. Untuk hal ini kita dibantu Allah agar mampu
menyegarkan ingatan terhadap siapa sebenarnya kita ini. Hendaklah manusia
merenungkan dari benda apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang
memancar, keluar dari antara tulang pinggul dan tulang rusuk. (Qs. 86 :
5-7)Peringatan Allah tersebut disampaikan berkaitan dengan tingkah manusia
sudah melampaui batas. Ketika dengan tak tahu diri, manusia mencuri baju
kebesaran Tuhan dan memakainya. Pakaian itu adalah kesombongan. Di mana hanya
Allah-lah yang berhak sombong dan hanya DIAlah yang paling berhak menyandang
semua gelar kebesaran dan segala bentuk pujian.Namun manusia dengan segala
kenaifannya, lupa diri dan ikut-ikutan menyombongkan diri dan minta dipuji.
Dengan ketampanan dan kecantikan, kita lalai untuk bersyukur. Jabatan dan
pangkat melahirkan sifat kebal kritik. Ilmu yang dimiliki menutupi akal budi dari
masukan pihak lain. Harta kekayaan melupakan kita dari mengingat Allah dan
perbekalan hari akhirat.Kesadaran yang rendah terhadap konsep setetes mani juga
menjadikan manusia lupa bahwa manusia lain adalah saudara, karena berasal dari
zat yang sama. Sehingga jangan heran bila kemudian banyak terjadi persaingan,
permusuhan dan bentrokan. Hilang sudah jiwa kasih sayang antar sesama bersamaan
dengan hilangnya kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara.Dulu hanya
setetes mani, kemudian menjadi jasad sempurna dan sekarang merasa berhak
mengatur hidupnya tanpa mempedulikan Sang Pencipta, sudah seberani itukah
sampean semua? Perhatikan firman Allah berikut: Dan apakah manusia tidak
memperhatikan bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian
menjadi musuh Kami seterang-terangnya. Qs. 36:77. Beranikah pembaca tergolong
sebagai musuh Allah? Saya berlindung dari status itu._____Ya Allah,jadikanlah
kami menjadi hamba yang bersukur atas segala Rizki yang kau beri,dan
mudahkanlah rizki kami ya Allah.*Aamiin*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar