kursor

Toad Jumping Up and Down

Kamis, 13 Juni 2013

taqwa


      
1. PENGERTIAN TAQWA
Takwa yang telah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab taqwa. Menurut penelitian al-Muqaddasi (Beirut, 1323) di dalam al-Qur’an terdapat 256 kata takwa pada 251 ayat dalam berbagai hubungan dan variasi makna. Akar katanya adalah w.q.y., artinya antara lain: takut, menjaga diri, memelihara, tanggung jawab dan memenuhi kewajiban. karena itu, orang yang bertakwa adalah orang yang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran: mengerjakan suruhan-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, takut terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Orang yang takwa adalah orang yang menjaga (membentengi) diri dari kejahatan; memelihara diri agar tidak melakukan perbuatan yang tidak diridai Allah; bertanggung jawab mengenai sikap, tingkah laku dan perbuatannya, dan memenuhi kewajiban.

Dari berbagai makna yang dikandung perkataan takwa itu, dalam bukunya Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakkal, cendekiawan muslim Indonesia almarhum Haji Agus Salim, merumuskan makna takwa dengan mempergunakan memelihara sebagai titik tolak. Menurut H.A. Salim, takwa adalah sikap mental seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu dalam rangka memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan perbuatan yang baik dan benar, pantang berbuat salah dan melakukan kejahatan terhadap orang lain, sendiri dan lingkungannya (Gazalba, 1976: 46).

2. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Hubungan mansuia dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai dimensi takwa pertama, menurut ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa seperti telah disinggung pada awal kajian ini, merupakan prima causa hubungan-hubungan yang lain.
Ketakwaan atau pemeliharaan hubungan dengan Allah dapat dilakukan antara lain sebagai contoh :
1.     Beriman kepada Allah.
2.     Beribadah kepada-Nya dengan jalan melaksanakan shalat lima kali sehari semalam.
3.     Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan menerima, mengurus, memanfaatkan semua pemberian Allah kepada mansuia.
4.     Bersabar menerima cobaan Allah dalam makna tabah, tidak putus asa ketika mendapat musibah atau menerima bencana.
5.     Memohon ampun atas segala dosa dan tobat dalam makna sadar untuk tidak lagi melakukan segala perbuatan jahat atau tercela.
3. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN HATI NURANI ATAU DIRINYA SENDIRI
Hubungan manusia dengan hati nurani atau diri sendiri sebagai dimensi takwa yang kedua dapat dipelihara dengan jalan menghayati benar patokan-patokan akhlak, yang disebutkan Tuhan dalam berbagai ayat al-Qur’an. Diantaranya : sbar, pemaaf, adil, ikhlas, berani, memegang amanah, mawas diri, dan mengembangkan semua sikap yang terkandung dalamakhlak aau budi pekerti yang baik.

4. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMA MANUSIA
Hubungan manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat dapat dipelihara, antara lain dengan : tolong menolong, bantu membantu, suka memaafkan kesalahan orang lain, menepati janji, lapang dada, dan menegakkan keadilan dan berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.

5. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN HIDUP
Konsekuensi dari empat pemeliharaan hubungan dalam rangka ketakwaan tersebut adalah bahwa manusia harus selalu menumbuhkan dan mengembangkan dalam dirinya empat T yakni empat (kesadaran) tanggung jawab yaitu :
1. Tanggung jawab kepada Allah.
2. Tanggung jawab kepada hati nurani sendiri
3. Tanggung jawab kepada manusia lain
4. tanggung jawab untuk memelihara lingkungan

Takwa dalam makna memenuhi kewajiban perintah Allah yang menajdi kewajiban manusia takwa untuk melaksanakannya pada pokoknya adalah :
1. Kewajiban kepada Allah
Kewajiban ini harus ditunikan manusia, untuk memenuhi tujuan hidup dan kehidupannya di dunia ini yakni mengabdi kepada Ilahi, “Tidak kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepadaKu,” demikian makna firman Tuhan dalam al-Qur’an surat az-Dzariyat (51) ayat 56.
Misalnya : kewajiban shalat, kewajiban zakat, kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

2. Kewajiban kepada diri sendiri
Kepajiban kepada diri sendiri adalah fardu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimat untuk melakukannya.

3. Kewajiban kepada masyarakat
Kewajiban ini merupakan dimensi ketiga pelaksanaan takwa. Kewajiban ini mulai dari :
a. Kewajiban terhadap keluarga
b. Kewajiban terhadap tetangga
c. Kewajiban terhadap masyarakat luas
d. Kewajajiban terhadap negara

4. Kewajiban terhadap lingkungan hidup
Kewajiban terhadap lingkungan hidup dapat disimpulkan dari pernyataan Tuhan dalam al-Qur’an yang menggambarkan kerusakan yang telah terjadi di daratan dan dilautan, karena (ulah) tangan manusia, yang tidak mensyukuri kurnia Ilahi. Untuk mencegah derita yang dirasakan oleh manusia, sepertri yang terjadi di Afrika, manusia wajib memelihara kelestarian lingkungan.

B. Cara Meningkatkan Taqwa

Mengapa kita perlu bertaqwa, memperkokoh dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah; di antara alasannya ialah firman Allah dalam surat ali- Imran ayat 102: Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar- benar takwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan mu slim (berserah diri kepada Allah). Kemudian terdapat dalam surat al- Hujurat ayat 13; Allah berfirman: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Dari firman Allah tersebut, Allah menjelaskan perlunya bertaqwa itu yaitu dapat menjalani kehidupan dengan baik dan menjadi kunci utk mendapatkan keselamatan dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat; kemudian takwa menjadi ukuran kemuliaan seseoran di sisi Allah dan menurut pandangan manusia. Untuk memperkokoh dan meningkatkan kadar ketakwaan kita kepada Allah, ada beberapa cara yaitu: Pertama; dengan al- mu’ahadah yaitu ingat dengan perjanjian kita kepada Allah swt. Janji itu sering kita ikrarkan, misal ketika kita shalat paling sedikit 17 kali kita berjanji kepada Allah untuk menyembah hanya kepada Allah dan minta pertolongan; baahkan setiap kita membaca surat al-Fatihah ayat 5: Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami mohon pertolongan. Dengan demikian, setiap kita sudah berjanji untuk menjalankan kehidupan ini dengan sesuatu yang bernilai ibadah dan Allah sesungguhnya menciptakan manusia ini dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Tentunya ibadah yang dimaksudkan tidak hanya terbatas pada ibadah shalat, puasa, dzkir dan sejenisnya, melainkan seluruh kegiatan kita dari pagi sampai pagi lagi, semua harus bernilai ibadah. Agar semua kegiatan kita bernilai ibadah, tentunya dengan syarat bahwa kegiatan itu benar, baik dan dikerjakan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar serta dengan tujuan hanya mengharap ridha Allah swt. Kedua; dengan al- muraqabah yaitu merasa dekat kepada Allah swt. Hal ini perlu karena orang akan merasakan bahwa dia selalu diawasi oleh Allah dan membuatnya selalu berfikir sebelum berbuat dan tidak berani menyimpang dari jalan yang telah diatur-Nya. Sikap ini mutlak harus dilakukan , karena sebenarnya Allah itusangat dekat dengan kita, sesuai dengan firman Allah swt dalam surat al_hadid ayat 4: Dan Allah bersama kamu dimana saja kamu berada; dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. Bahkan dalam ayat yang lain, dalam surat al-Mujadilah ayat 6: yang intinya ayat ini menjelaskan bahwa tidaklah kamu perhatikan yang ada dilangit dan di bumi. Tiada pembicaraan rahasia anatar tiga orang, melainkan Allahlah yang keempatnya; dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Allah yang keenamnya; dan tiada pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Allah ada bersama mereka dimanapun mereka berada; Kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan; sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu. Ketiga; dengan al- Muhasabah atau menghitung- hitung diri, introspeksi diri yang juga merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi kelak amal manusia akan hitung oleh Allah swt; karena itu sebelumnya manusia harus menghitung sendiri amal- amalnya agar dia tahu apakah selama ini dia lebih banyak amal shaleh atau amal salah. Sahabat nabi Umar ibnu Khattab pernah mengingatkan dalam ungkapannya: Hisablah disi kalian sebelum kalian dihisab di kahirat. Oleh karena itu, ada baiknya seorang muslim melakukan muhasabah setiap hari, misalnya menjelasng tidur, dia merenungi apa yang diperjuangkan pada hari it atau setiap jum’at sekali atau sebulan dan minimal setahun, dia dapat meningkatkan kualitas hidupnya untuk bekal waktu yang akan datang termasuk kehidupan di akahira nantinya. Firman Allah surat al-Hasr ayat 18: Hai orang- orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yanv telah di perbuatnya untuk hari akhirat, dan bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Keempat; dengan al- mu’aqabah yaitu memberikan sangsi atau menghukum dirinya sendiri bila tidak melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan, apalagi jika sampai melakukan maksiat. Perlunya sangsi ini diberlakukan pada diri seseorang muslim, karena akan membatasi jangan sampai mempermudah terlanggarnya kesalahan- kesalahan yang lain. Kelima; dengan al- mujahadah yaitu bersungguh sungguh dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini karena Islam memang harus dilakukan dengan penuh kesungguhan; Tanpa kesungguhan, sangat sulit seorang dapat melakukan ajaran Islam. Shalat misalnya memerlukan kesungguhan, begitu juga berinfaq, apalagi berjihad di jalan Allah. Jika seseorang telah memiliki kesungguhan, meskipun nantinya akanmenghadapi kesulitan dalam beramal, Allah swt akan memberikan kemudahan baginya dalam mengahdapi kesulitan itu. Allah berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 69: Dan orang- orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Allah, benar- benar akan Allah tunjukkan kepada mereka jalan- jalan Allah. Dan sesungguhnya Allah benar- benar beserta orang- orang yang bwerbuat baik. Dengan demikian, ketaqwaan kepada Allah harus kita mantapkan terus karena dengan demikian seorang muslim, akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
C. Mengamalkan dan Memelihara Ketaqwaan                                                 Allah SWT senantiasa menjunjung tinggi ketingkat yang lebih atas terhadap siapa saja yang mau meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Untuk itu teramat penting bagi kita untuk terus menjaga dan memelihara iman dan taqwa kita agar kita bisa terhindar dari berbagai macam cobaan, terhindar dari beraneka ragam godaan yang datang dari segala penjuru, setiap saat dan tak mengenal waktu. Sebagai seorang muslim janganlah mudah meratap jika ada musibah dan jangan sedih kalau ada bahaya menimpa. Ingat pada Allah yang Kuasa sebab Dialah yang mengatur segalanya. Apa yang dijalaninya sudah tertera dalam suratan sesuai dengan qadha’ dan qadar Nya. Manusia hanya merencana dan berusaha namun Allah jualah yang menentukan segalanya.
Taqwa adalah urusan hati dan merupakan hal yang rahasia sehingga hakikat taqwa adalah menjauhkan dan memelihara diri dari laknat Allah, caranya adalah
a.     Mentaati perintah Allah dengan beramal shaleh untuk mendapatkan ridho Allah
b.     Menjauhi larangan Nya agar terhindar dari hukuman Allah.
c.      Menjaga diri dari segala sesuatu yang berakibat negatif sehingga tidak terjerumus kepada perkara dosa
d.     Bersedia membersihkan diri dari berbagai tindakan yang diharamkan
Adapun ciri-ciri orang yang bertaqwa secara ringkas adalah sebagai berikut :
a.     Ikrar diri bahwa Allah adalah Esa serta beriman dengan hal-hal yang ghaib yang tidak mampu ditangkap dengan panca indra seperti perkara malaikat, sorga dan neraka, alam kubur, padang mashar dan sebagainya.
b.     Patuh dan taat dalam mengamalkan tuntunan dan ajaran Allah seperti sholat, zakat, puasa dan amalan lain yang telah ditetapkan Nya.
c.      Menjauhi larangan dan hal-hal yang dimurkai Allah
d.     Memelihara diri agar bisa mengamalkan baik melalui tulisan, ucapan ataupun tindakan tentang apa yang diteladani oleh Rasulullah, misalnya tuntunan sholat dan gerakannya yang tidak terdapat dalam Al Qur’an diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
e.      Berbakti kepada orang tua.
f.       Ringan tangan dalam membantu orang yang memerlukannya.
Itulah sebabnya maka dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, dalam bekerja, dalam berumah tangga, bermasyarakat, menjalin cinta kasih, mencari ilmu, mencari nafkah dan menafkahkan harta serta tolong menolong diantara sesama harus dilandasi iman dan taqwa. Perwujudan taqwa akan memancar dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan amal shaleh, taat menjalankan perintah Allah dan berbuat kebajikan dengan sesamanya. Dijelaskan bahwa penuh dengan kesungguhan Allah yang Rahman dan Rahim sangat mencintai hambanya yang taqwa. Siapa yang menyuruh kita beriman dan bertaqwa ? Tidak lain adalah Allah yang Maha Kuasa. Kalau demikian maka siapa yang tidak mau melaksanakan dan dengan alasan apapun berita-berita kebenaran yang telah ditebarkan ditengah keramaian kehidupan manusia pasti akan mengalami kesengsaraan kelak diakhirat nanti dengan penuh kepedihan dan bagi yang bertaqwa kepada Allah, tiada lain kelak akan menikmati kemuliaan, keindahan dan kenyamananan tanpa batas ditempat yang sangat terhormat yaitu Taman Firdaus Sorga Jannatun Naim . Taqwa mendorong manusia untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan selalu menolak suatu kegiatan yang mendatangkan dosa. Derajat taqwa lebih tinggi bila dibandingkan dengan derajat iman, sebab orang yang beriman belum tentu bertaqwa, tapi orang yang bertaqwa berarti tingkat keimanannya cukup tinggi. Banyak orang beriman tapi tidak mau beramal shaleh, misalnya tidak mau mengerjakan sholat, tidak mau membayar zakat dan lain sebagainya sehingga ada seruan agar orang yang telah beriman lengkapilah dengan taqwa. Taqwa terletak dihati manusia yang berakal. Kombinasi gerak antara otak dan hati inilah yang menjadikan orang tergerak untuk bertaqwa kepada Allah atau bahkan menentang perintah Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar