1.
PENGERTIAN TAQWA
Takwa
yang telah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab
taqwa. Menurut penelitian al-Muqaddasi
(Beirut, 1323) di dalam al-Qur’an terdapat 256 kata takwa pada 251 ayat dalam
berbagai hubungan dan variasi makna. Akar katanya adalah w.q.y., artinya antara
lain: takut, menjaga diri, memelihara, tanggung jawab dan memenuhi kewajiban.
karena itu, orang yang bertakwa adalah
orang yang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran: mengerjakan
suruhan-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, takut terjerumus ke dalam perbuatan
dosa. Orang yang takwa adalah orang yang menjaga (membentengi) diri dari
kejahatan; memelihara diri agar tidak melakukan perbuatan yang tidak diridai
Allah; bertanggung jawab mengenai sikap, tingkah laku dan perbuatannya, dan memenuhi
kewajiban.
Dari
berbagai makna yang dikandung perkataan takwa itu, dalam bukunya Keterangan
Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakkal, cendekiawan muslim Indonesia
almarhum Haji Agus Salim, merumuskan makna takwa dengan mempergunakan
memelihara sebagai titik tolak. Menurut H.A. Salim, takwa adalah sikap mental
seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu dalam rangka
memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan perbuatan yang
baik dan benar, pantang berbuat salah dan melakukan kejahatan terhadap orang
lain, sendiri dan lingkungannya (Gazalba, 1976: 46).
2.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Hubungan
mansuia dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai dimensi takwa pertama,
menurut ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa seperti telah disinggung pada awal
kajian ini, merupakan prima causa hubungan-hubungan yang lain.
Ketakwaan
atau pemeliharaan hubungan dengan Allah dapat dilakukan antara lain sebagai
contoh :
1. Beriman kepada Allah.
2. Beribadah kepada-Nya dengan jalan
melaksanakan shalat lima kali sehari semalam.
3. Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan
menerima, mengurus, memanfaatkan semua pemberian Allah kepada mansuia.
4. Bersabar menerima cobaan Allah dalam
makna tabah, tidak putus asa ketika mendapat musibah atau menerima bencana.
5. Memohon ampun atas segala dosa dan
tobat dalam makna sadar untuk tidak lagi melakukan segala perbuatan jahat atau
tercela.
3.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN HATI NURANI ATAU DIRINYA SENDIRI
Hubungan manusia dengan hati nurani atau diri sendiri sebagai dimensi
takwa yang kedua dapat dipelihara dengan jalan menghayati benar patokan-patokan
akhlak, yang disebutkan Tuhan dalam berbagai ayat al-Qur’an. Diantaranya :
sbar, pemaaf, adil, ikhlas, berani, memegang amanah, mawas diri, dan
mengembangkan semua sikap yang terkandung dalamakhlak aau budi pekerti yang
baik.
4.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMA MANUSIA
Hubungan manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat dapat dipelihara,
antara lain dengan : tolong menolong, bantu membantu, suka memaafkan kesalahan
orang lain, menepati janji, lapang dada, dan menegakkan keadilan dan berlaku
adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
5.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN HIDUP
Konsekuensi
dari empat pemeliharaan hubungan dalam rangka ketakwaan tersebut adalah bahwa
manusia harus selalu menumbuhkan dan mengembangkan dalam dirinya empat T yakni
empat (kesadaran) tanggung jawab yaitu :
1.
Tanggung jawab kepada Allah.
2.
Tanggung jawab kepada hati nurani sendiri
3.
Tanggung jawab kepada manusia lain
4.
tanggung jawab untuk memelihara lingkungan
Takwa
dalam makna memenuhi kewajiban perintah Allah yang menajdi kewajiban manusia
takwa untuk melaksanakannya pada pokoknya adalah :
1.
Kewajiban kepada Allah
Kewajiban
ini harus ditunikan manusia, untuk memenuhi tujuan hidup dan kehidupannya di
dunia ini yakni mengabdi kepada Ilahi, “Tidak kuciptakan jin dan manusia,
kecuali untuk mengabdi kepadaKu,” demikian makna firman Tuhan dalam al-Qur’an
surat az-Dzariyat (51) ayat 56.
Misalnya
: kewajiban shalat, kewajiban zakat, kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang
mampu.
2.
Kewajiban kepada diri sendiri
Kepajiban
kepada diri sendiri adalah fardu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimat untuk
melakukannya.
3.
Kewajiban kepada masyarakat
Kewajiban
ini merupakan dimensi ketiga pelaksanaan takwa. Kewajiban ini mulai dari :
a.
Kewajiban terhadap keluarga
b.
Kewajiban terhadap tetangga
c.
Kewajiban terhadap masyarakat luas
d.
Kewajajiban terhadap negara
4.
Kewajiban terhadap lingkungan hidup
Kewajiban
terhadap lingkungan hidup dapat disimpulkan dari pernyataan Tuhan dalam
al-Qur’an yang menggambarkan kerusakan yang telah terjadi di daratan dan
dilautan, karena (ulah) tangan manusia, yang tidak mensyukuri kurnia Ilahi.
Untuk mencegah derita yang dirasakan oleh manusia, sepertri yang terjadi di
Afrika, manusia wajib memelihara kelestarian lingkungan.
B. Cara Meningkatkan Taqwa
Mengapa kita perlu bertaqwa, memperkokoh dan
meningkatkan ketaqwaan kepada Allah; di antara alasannya ialah firman Allah
dalam surat ali- Imran ayat 102: Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah
kamu kepada Allah dengan sebenar- benar takwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu
mati kecuali dalam keadaan mu slim (berserah diri kepada Allah). Kemudian
terdapat dalam surat al- Hujurat ayat 13; Allah berfirman: Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu. Dari firman Allah tersebut, Allah menjelaskan perlunya bertaqwa
itu yaitu dapat menjalani kehidupan dengan baik dan menjadi kunci utk
mendapatkan keselamatan dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat; kemudian
takwa menjadi ukuran kemuliaan seseoran di sisi Allah dan menurut pandangan
manusia. Untuk memperkokoh dan meningkatkan kadar ketakwaan kita kepada Allah,
ada beberapa cara yaitu: Pertama; dengan al- mu’ahadah yaitu ingat dengan
perjanjian kita kepada Allah swt. Janji itu sering kita ikrarkan, misal ketika
kita shalat paling sedikit 17 kali kita berjanji kepada Allah untuk menyembah
hanya kepada Allah dan minta pertolongan; baahkan setiap kita membaca surat
al-Fatihah ayat 5: Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami mohon
pertolongan. Dengan demikian, setiap kita sudah berjanji untuk menjalankan
kehidupan ini dengan sesuatu yang bernilai ibadah dan Allah sesungguhnya
menciptakan manusia ini dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Tentunya
ibadah yang dimaksudkan tidak hanya terbatas pada ibadah shalat, puasa, dzkir
dan sejenisnya, melainkan seluruh kegiatan kita dari pagi sampai pagi lagi,
semua harus bernilai ibadah. Agar semua kegiatan kita bernilai ibadah, tentunya
dengan syarat bahwa kegiatan itu benar, baik dan dikerjakan dengan niat yang
ikhlas, cara yang benar serta dengan tujuan hanya mengharap ridha Allah swt.
Kedua; dengan al- muraqabah yaitu merasa dekat kepada Allah swt. Hal ini perlu
karena orang akan merasakan bahwa dia selalu diawasi oleh Allah dan membuatnya
selalu berfikir sebelum berbuat dan tidak berani menyimpang dari jalan yang
telah diatur-Nya. Sikap ini mutlak harus dilakukan , karena sebenarnya Allah
itusangat dekat dengan kita, sesuai dengan firman Allah swt dalam surat
al_hadid ayat 4: Dan Allah bersama kamu dimana saja kamu berada; dan Allah maha
melihat apa yang kamu kerjakan. Bahkan dalam ayat yang lain, dalam surat
al-Mujadilah ayat 6: yang intinya ayat ini menjelaskan bahwa tidaklah kamu
perhatikan yang ada dilangit dan di bumi. Tiada pembicaraan rahasia anatar tiga
orang, melainkan Allahlah yang keempatnya; dan tiada pembicaraan antara lima
orang melainkan Allah yang keenamnya; dan tiada pembicaraan antara jumlah yang
kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Allah ada bersama mereka dimanapun
mereka berada; Kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat
apa yang telah mereka kerjakan; sesungguhnya Allah maha mengetahui segala
sesuatu. Ketiga; dengan al- Muhasabah atau menghitung- hitung diri, introspeksi
diri yang juga merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi kelak amal
manusia akan hitung oleh Allah swt; karena itu sebelumnya manusia harus
menghitung sendiri amal- amalnya agar dia tahu apakah selama ini dia lebih
banyak amal shaleh atau amal salah. Sahabat nabi Umar ibnu Khattab pernah
mengingatkan dalam ungkapannya: Hisablah disi kalian sebelum kalian dihisab di
kahirat. Oleh karena itu, ada baiknya seorang muslim melakukan muhasabah setiap
hari, misalnya menjelasng tidur, dia merenungi apa yang diperjuangkan pada hari
it atau setiap jum’at sekali atau sebulan dan minimal setahun, dia dapat
meningkatkan kualitas hidupnya untuk bekal waktu yang akan datang termasuk
kehidupan di akahira nantinya. Firman Allah surat al-Hasr ayat 18: Hai orang-
orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yanv telah di perbuatnya untuk hari akhirat, dan bertaqwalah
kepada Allah; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Keempat; dengan al- mu’aqabah yaitu memberikan sangsi atau menghukum dirinya
sendiri bila tidak melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan, apalagi jika
sampai melakukan maksiat. Perlunya sangsi ini diberlakukan pada diri seseorang
muslim, karena akan membatasi jangan sampai mempermudah terlanggarnya
kesalahan- kesalahan yang lain. Kelima; dengan al- mujahadah yaitu bersungguh
sungguh dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini karena Islam memang harus
dilakukan dengan penuh kesungguhan; Tanpa kesungguhan, sangat sulit seorang
dapat melakukan ajaran Islam. Shalat misalnya memerlukan kesungguhan, begitu
juga berinfaq, apalagi berjihad di jalan Allah. Jika seseorang telah memiliki
kesungguhan, meskipun nantinya akanmenghadapi kesulitan dalam beramal, Allah
swt akan memberikan kemudahan baginya dalam mengahdapi kesulitan itu. Allah
berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 69: Dan orang- orang yang berjihad untuk
mencari keridhaan Allah, benar- benar akan Allah tunjukkan kepada mereka jalan-
jalan Allah. Dan sesungguhnya Allah benar- benar beserta orang- orang yang
bwerbuat baik. Dengan demikian, ketaqwaan kepada Allah harus kita mantapkan
terus karena dengan demikian seorang muslim, akan memperoleh kebahagiaan yang
hakiki di dunia dan akhirat.
C.
Mengamalkan dan Memelihara Ketaqwaan
Allah SWT senantiasa menjunjung tinggi
ketingkat yang lebih atas terhadap siapa saja yang mau meningkatkan keimanan
dan ketaqwaannya. Untuk itu teramat penting bagi kita untuk terus menjaga dan
memelihara iman dan taqwa kita agar kita bisa terhindar dari berbagai macam
cobaan, terhindar dari beraneka ragam godaan yang datang dari segala penjuru,
setiap saat dan tak mengenal waktu. Sebagai seorang muslim janganlah mudah
meratap jika ada musibah dan jangan sedih kalau ada bahaya menimpa. Ingat pada
Allah yang Kuasa sebab Dialah yang mengatur segalanya. Apa yang dijalaninya
sudah tertera dalam suratan sesuai dengan qadha’ dan qadar Nya. Manusia hanya
merencana dan berusaha namun Allah jualah yang menentukan segalanya.
Taqwa adalah urusan hati dan
merupakan hal yang rahasia sehingga hakikat taqwa adalah menjauhkan dan
memelihara diri dari laknat Allah, caranya adalah
a. Mentaati
perintah Allah dengan beramal shaleh untuk mendapatkan ridho Allah
b. Menjauhi
larangan Nya agar terhindar dari hukuman Allah.
c. Menjaga
diri dari segala sesuatu yang berakibat negatif sehingga tidak terjerumus
kepada perkara dosa
d. Bersedia
membersihkan diri dari berbagai tindakan yang diharamkan
Adapun ciri-ciri orang yang bertaqwa secara
ringkas adalah sebagai berikut :
a. Ikrar
diri bahwa Allah adalah Esa serta beriman dengan hal-hal yang ghaib yang tidak
mampu ditangkap dengan panca indra seperti perkara malaikat, sorga dan neraka,
alam kubur, padang mashar dan sebagainya.
b. Patuh
dan taat dalam mengamalkan tuntunan dan ajaran Allah seperti sholat, zakat,
puasa dan amalan lain yang telah ditetapkan Nya.
c. Menjauhi
larangan dan hal-hal yang dimurkai Allah
d. Memelihara
diri agar bisa mengamalkan baik melalui tulisan, ucapan ataupun tindakan
tentang apa yang diteladani oleh Rasulullah, misalnya tuntunan sholat dan
gerakannya yang tidak terdapat dalam Al Qur’an diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW.
e. Berbakti
kepada orang tua.
f. Ringan
tangan dalam membantu orang yang memerlukannya.
Itulah sebabnya maka dalam aplikasi kehidupan
sehari-hari, dalam bekerja, dalam berumah tangga, bermasyarakat, menjalin cinta
kasih, mencari ilmu, mencari nafkah dan menafkahkan harta serta tolong menolong
diantara sesama harus dilandasi iman dan taqwa. Perwujudan taqwa akan memancar
dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan amal shaleh, taat menjalankan perintah
Allah dan berbuat kebajikan dengan sesamanya. Dijelaskan bahwa penuh dengan
kesungguhan Allah yang Rahman dan Rahim sangat mencintai hambanya yang taqwa. Siapa
yang menyuruh kita beriman dan bertaqwa ? Tidak lain adalah Allah yang Maha
Kuasa. Kalau demikian maka siapa yang tidak mau melaksanakan dan dengan alasan
apapun berita-berita kebenaran yang telah ditebarkan ditengah keramaian
kehidupan manusia pasti akan mengalami kesengsaraan kelak diakhirat nanti
dengan penuh kepedihan dan bagi yang bertaqwa kepada Allah, tiada lain kelak
akan menikmati kemuliaan, keindahan dan kenyamananan tanpa batas ditempat yang
sangat terhormat yaitu Taman Firdaus Sorga Jannatun Naim . Taqwa mendorong manusia untuk bisa
bekerja sama dalam kebaikan dan selalu menolak suatu kegiatan yang mendatangkan
dosa. Derajat taqwa lebih tinggi bila dibandingkan dengan derajat iman, sebab
orang yang beriman belum tentu bertaqwa, tapi orang yang bertaqwa berarti
tingkat keimanannya cukup tinggi. Banyak orang beriman tapi tidak mau beramal
shaleh, misalnya tidak mau mengerjakan sholat, tidak mau membayar zakat dan
lain sebagainya sehingga ada seruan agar orang yang telah beriman lengkapilah
dengan taqwa. Taqwa terletak dihati manusia yang berakal. Kombinasi gerak
antara otak dan hati inilah yang menjadikan orang tergerak untuk bertaqwa
kepada Allah atau bahkan menentang perintah Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar