2.1. Sejarah Lempar Lembing
Di zaman dahulu lemparan dilakukan dengan berbagai cara: dari
berdiri, dengan ancang-ancang, dengan satu dan dua tangan, terhadap suatu
sasaran dan demi jaraknya. Dari lembing ringan untuk berburu pada bangsa-bangsa
yang masih primitive, tombak berat untuk berperang diseluruh dunia, dan lembing
dari Abad Pertengahan selama berabad-abad, terbentuklah lembing untuk
perlombaan seperti sekarang. Lembing lama dari kayu dengan ujung dari besi dan
sosok untuk membawa, diganti dengan kayu ringan dari Swedia, dan ini terdesak
lagi oleh lembing modern dari logam dan serat kaca (fiberglass).
Selama berpuluh tahun lempar lembing dijuarai oleh para pelempar
dari Finlandia. Dari 1914 sampai 1938 rekor dunia hamper hanya diperbaiki oleh
atlet Finlandia, keseluruhannya dengan lebih dari 16 meter. Contoh yang baik
dalam tradisi lempar lembing Finlandia ialah keluarga Jarvinen: Papa Jarvinen
dalam Olimpiade tahun 1908 menjadi juara ketiga dalam lempar cakram, dan antara
1903 dan 1906 dua kali memperbaiki rekor dunia. Kemudian sebagai pelatih ia membawa
tiga orang dari anak-anaknya sampai ke puncak prestasi. Anak bungsunya, Kalle,
menjadi juara Finlandia dalam tolak peluru. Achilles menjadi juara dunia dan
pemenang medali perak dalam dasalomba; dan Matti, yang tertua, antara 1930 dan
1936 memperbaiki rekor dunia dalam lempar lembing dari 71,57 menjadi 77,32
meter. Pada tahun 1932 ia menjadi juara Olimpiade di Los Angeles .
Lempar lembing diikutsertakan dalam peserta olimpiade sejak tahun
1908 sebagai nomor perorangan untuk putra dan putri, sekarang nomor ini
dimasukkan dalam dasalomba dan sapta lomba. Dua perkembangan telah mempengaruhi
pelaksanaan lempar lembing. Yang pertama adalah usaha untuk menggunakan putaran
jenis cakram untuk melempar. Walaupun metode ini menghasilkan jarak yang baik,
namun seringkali tidak diperbolehkan, peraturan melarang atlet membelakangi
arah lemparan. Dengan demikian, peraturan ini telah memantapkan jenis lempar
lembing tradisional.
Perkembangan kedua dihasilkan dari peningkatan jarak yang luar biasa
(melebihi 100 meter) pada lemparan putra. Pembuat peraturan yang khawatir
seringkali mengubah ukuran lembing, dan secara perlahan mengurangi jarak
lemparan lembing putra. Tidak ada perubahan pada nomor putri.
Pada tahun 1953 terjadi kehebohan besar di antara para pelempar lembing
kaliber dunia. Seorang spanyol yang sama sekali tidak terkenal, bernama
Erazquien, telah melempar lembing lebih dari 90 meter, pada waktu itu suatu
jarak impian. Suatu teknik baru memungkinkan pelempar lembing tersebut dapat
mencapai lemparan sejauh itu. Alih-alih ancang-ancang lurus seperti biasa,
Erazquien berputar tiga kali dan melemparkan lembingnya dengan sabun lunak
untuk memperbaiki daya luncurnya.
Tetapi, “teknik spanyol” yang baru itu segera oleh IAAF (Federasi
Atletik Amatir Internasional) dilarang karena pelempar tidak selalu dapat
mengontrol lembingnya, dan karenanya membahayakan penonton. Selain itu,
tentunya juga harus disediakan stadion-stadion baru, sebab dengan teknik baru
itu dapat diharapkan lemparan sampai sejauh 130 meter. Atlet Hongaria, Ferenc
Faragi, pada rekor dunianya tahun 1980 berhasil melemparkan lembingnya sejauh
96,72 meter, suatu kemajuan hebta terhadap rekor-rekor pertama setelah lembing
dibakukan dengan panjang 2,60 m dan berat 800 gram.
2.2. Teknik Lempar Lembing
Sudah pada permulaan abad ini diketahui bahwa ancang-ancang,
memegang lembing kebelakang, dan langkah penghubung, membawa pelempar ke dalam
posisi menguntungkan. Langkah penghubung antara ancang-ancang dan lemparan,
yang disebut langkah pendorong (yang dulu masih disebut langkah silang),
dikembangkan oleh orang Swedia dan Finlandia. Langka itu menguntungkan bagi
kecepatan dan pelempar sampai dengan tungkai dan pingganganya sebelum lembing.
Dalam pada itu, sisi lemparnya dengan lengan terentangnya secara kendur, jauh
ketinggalan. Prinsip dasar teknik ini masih memberikan peluang bagi variasi
perseorangan. Walaupun demikian, pada teknik lempar lembing modern tidak banyak
berubah. Hanya pada persiapan lemparan dengan lengan lempar, tegangan tubuh,
dan ancang-ancang terdapat perbedaan antara teknik caliber dunia sekarang dan
teknik 50 tahun lalu. Maka itu, kemajuan prestasi yang eksplosif juga bukan
karena perbaikan teknik, melainkan karena kondisi pelempar dan perkembangan
materialnya.
2.2.1. Cara Memegang Lembing
Lembing dipegang di sisi belakang lilitan. Dengan itu dimungkinkan
pengalihan tenaga yang menguntungkandibelakang titik berat; selain itu, jari
mempunyai tempat pegangan lebih baik. Dibedakan tiga macam pegangan lembing:
1. Cara Finlandia dilakukan dengan cara memegang lembing pada
bagian belakang lilitan lembing dengan jari tengah dan ibu jari, sementara
telunjuk berada sepanjang batang lembing dan agak serong ke arah yang wajar,
jari-jari lainnya turut melingkar di badan lembing dengan longgar. Ini
adalah pegangan yang paling banyak digunakan, sebab dengan pegangan demikian
lembing dapat diarahkan dengan baik.
2. Cara Amerika dilakukan dengan cara memegang lembing dibagian belakang lilitan lembing
dengan jari telunjuk melingkar di belakang lilitan dan ibu jari menekannya di
bagian permukaan yang lain, sementara itu jari-jari turut melingkar di badan
lembing dengan longgar. Dengan pegangan ini, pada waktu pelemparan dapat cepat terjadi penyimpangan lembing ke samping, yang
sudah tentu merupakan kesalahan.
3.
Pada yang disebut “pegangan
tang”, lembing dipegang di antara telunjuk dan jari tengah (foto 4).
Dengan pegangan ini dicegah terjadinya luka pada siku, karena pelencangan
terlalu besar pada sendi itu menjadi terhalang (“pegangan kesehatan”). Tetapi
lilitan tipis seperti yang diharuskan, sering menyebabkan masalah pada waktu
pelemparan.
2.2.2. Cara Membawa Lembing
Membawa lembing adalah cara membawa dimulai saat mengambil awalan
sampai saat akan melempar.
· Tangan
pembawa lembing lurus ke belakang serong ke bawah, lembing dipegang di samping
badan segaris dan menempel pada lengan sedangkan ujung lembing di samping dada.
· Tangan
pembawa lembing ditekuk 900 , lembing dipegang setinggi telinga dan
tepat di atas bahu. Posisi lembing bisa horizontal, serong ke atas atau bawah.
· Tangan
pembawa lembing diangkat sedikit lebih tinggi dari kepala. Posisi lembing
mendatar atau serong.
2.2.3. Beberapa Hal Yang Hharus Di Perhatikan Dalam Lempar Lembing
Beberapa Hal Yang di Sarankan
· Memegang lembing sepanjang jalur lengan
· Melebarkan langkah terakhir dan membengkokkan
secara perlahan-lahan tungkai kanan
· Berlari lurus selama melakukan awalan
· Bawalah berat badan melewati tungkai belakang
· Dapatkan sebuah pilihan antara tubuh bagian atas
dan bagian bawah (bahu kiri dalam posisi tertutup)
· Luruskan lengan lempar dan telapak tangan lempar
dalam posisi menghadap keatas
· Langkahkan tungkai kiri jauh ke depan dan cakarkan
· Busungkan badan dalam posisi lempar dan bawalah
sikut keatas sewaktu melakukan lemparan.
Beberapa Hal Yang Harus di Hindari
· Memegang lembing dengan kepalan tangan penuh
(menggenggam)
· Meloncat ke atas pada langkah terakhir
· Melakukan dua kali atau lebih langkah silang
· Membawa ke dua bahu menghadap kedepan
· Pinggul di tekuk sehingga badan membungkuk ke depan
· Membengkokkan lengan lempar pada saat mulai
melakukan lemparan
· Penempatan kaki depan di tanah terlalu jauh ke
kiri
· Melempar berputar melalui samping kanan badan
2.2.4. Gaya Melempar Lembing
Untuk melakukan suatu lemparan diperlikan gaya,
yang dimaksud dengan gaya adalah sikap atlet dalam melakukan lemparan. Dalam
lempar lembing dikenal dua macam gaya melempar, yaitu :
a.
gaya menyamping (Hop step)
b.
gaya langkah silang (cross step)
Ø Langkah silang (cross step)
sebelum melempar
Langkah silang merupakan gaya
lempar lembing yang sering digunakan oleh atlet pelempar lembing. Gaya cross step ini berasal dari Finlandia sehingga banyak
yang menyebut dengan lempar lembing gaya
Finlandia. Cara lempar lembing gaya
Finlandia adalah sebagai berikut, setelah langkah awalan terakhir lakukan
langkah silang :
a.
langkahkan kaki kanan ke
depan menyilang kaki kiri. Bersamaan itu tangan kanan memegang lembing kemudian
turunkan dan serong ke bawah.
b.
Langkahkan kaki kiri ke depan
dengan tetap mempertahankan sikap tangan kanan.
c.
Lankahkan kaki kanan ke depan
menyilang kaki kiri.
d. Lankahkan kaki kiri ke depan selebar
mingkin saat telapak kaki tepat menginjak tanah, putar pinggan ke depan bersamaan
tangan kanan ditarik ke depan atas.
Ø Lentingan
badan dan tangan saat melempar
Cara melakukannya adalah :
a.
Sikap terakhir langkah silang
merupakan kelanjutan untuk lempar atau sikap melempar.
b.
Jika pelempar menggunakan
tangan kanan, kaki kanan di luruskan ke belakang, kaki kiri berada di depan dan
lutut ditekuk.
c.
Siku tangan pembawa lembing
ditekuk dan diteruskan memutar badan secara cepat untuk memperoleh lemparan
yang baik dan sejauh-jauhnya.
d. Bersamaan dengan memutar badan ke arah
sektor lemparan, lembing dilemparkan dengan cepat.
Ø Sikap
akhir setelah melempar
Gerak ikutan atau follow through dilakukan dengn cara :
· Sikap badan menghadap ke arah lemparan lembing,
kaki kanan jatuh ke depan mengganti posisi kiri.
· Kaki kiri ke belakang menjaga keseimbangan
sedangkan tubuh condong ke depan.
Melakukan gerak ikutan dalam lempar lembing
bertujuan untuk :
· membantu kekuatan lemparan.
· Menjaga keseimbangan agar badan tidak melalui
garis batas.
Ø Ukuran
dan Lapangan Lempar Lembing
Ukuran Lembing
No
|
Atlet
|
Panjang
|
Berat
|
Lilitan
|
1
|
Putra
|
260 cm - 270 cm
|
700 gram - 800 gram
|
15 cm - 16 cm
|
2
|
Putri
|
220 cm - 230 cm
|
600 gram
|
14 cm - 15 cm
|
Keterangan
Ø Lebar awalan = 4 m
Ø Panjang awalan = 30 m - 36,5 m
Ø BC merupakan busur, jari-jari
AB=AC=8 m
Ø Lebar garis lurus sisi kanan
dan kiri = 11/2 m
Ø Lebar garis lempar = 7 m
Di zaman dahulu lemparan dilakukan dengan berbagai cara: dari
berdiri, dengan ancang-ancang, dengan satu dan dua tangan, terhadap suatu
sasaran dan demi jaraknya. Dari lembing ringan untuk berburu pada bangsa-bangsa
yang masih primitive, tombak berat untuk berperang diseluruh dunia, dan lembing
dari Abad Pertengahan selama berabad-abad, terbentuklah lembing untuk
perlombaan seperti sekarang. Lembing lama dari kayu dengan ujung dari besi dan
sosok untuk membawa, diganti dengan kayu ringan dari Swedia, dan ini terdesak
lagi oleh lembing modern dari logam dan serat kaca (fiberglass).
Selama berpuluh tahun lempar lembing dijuarai oleh para pelempar
dari Finlandia. Dari 1914 sampai 1938 rekor dunia hamper hanya diperbaiki oleh
atlet Finlandia, keseluruhannya dengan lebih dari 16 meter. Contoh yang baik
dalam tradisi lempar lembing Finlandia ialah keluarga Jarvinen: Papa Jarvinen
dalam Olimpiade tahun 1908 menjadi juara ketiga dalam lempar cakram, dan antara
1903 dan 1906 dua kali memperbaiki rekor dunia. Kemudian sebagai pelatih ia membawa
tiga orang dari anak-anaknya sampai ke puncak prestasi. Anak bungsunya, Kalle,
menjadi juara Finlandia dalam tolak peluru. Achilles menjadi juara dunia dan
pemenang medali perak dalam dasalomba; dan Matti, yang tertua, antara 1930 dan
1936 memperbaiki rekor dunia dalam lempar lembing dari 71,57 menjadi 77,32
meter. Pada tahun 1932 ia menjadi juara Olimpiade di Los Angeles .
Lempar lembing diikutsertakan dalam peserta olimpiade sejak tahun
1908 sebagai nomor perorangan untuk putra dan putri, sekarang nomor ini
dimasukkan dalam dasalomba dan sapta lomba. Dua perkembangan telah mempengaruhi
pelaksanaan lempar lembing. Yang pertama adalah usaha untuk menggunakan putaran
jenis cakram untuk melempar. Walaupun metode ini menghasilkan jarak yang baik,
namun seringkali tidak diperbolehkan, peraturan melarang atlet membelakangi
arah lemparan. Dengan demikian, peraturan ini telah memantapkan jenis lempar
lembing tradisional.
Perkembangan kedua dihasilkan dari peningkatan jarak yang luar biasa
(melebihi 100 meter) pada lemparan putra. Pembuat peraturan yang khawatir
seringkali mengubah ukuran lembing, dan secara perlahan mengurangi jarak
lemparan lembing putra. Tidak ada perubahan pada nomor putri.
Pada tahun 1953 terjadi kehebohan besar di antara para pelempar lembing
kaliber dunia. Seorang spanyol yang sama sekali tidak terkenal, bernama
Erazquien, telah melempar lembing lebih dari 90 meter, pada waktu itu suatu
jarak impian. Suatu teknik baru memungkinkan pelempar lembing tersebut dapat
mencapai lemparan sejauh itu. Alih-alih ancang-ancang lurus seperti biasa,
Erazquien berputar tiga kali dan melemparkan lembingnya dengan sabun lunak
untuk memperbaiki daya luncurnya.
Tetapi, “teknik spanyol” yang baru itu segera oleh IAAF (Federasi
Atletik Amatir Internasional) dilarang karena pelempar tidak selalu dapat
mengontrol lembingnya, dan karenanya membahayakan penonton. Selain itu,
tentunya juga harus disediakan stadion-stadion baru, sebab dengan teknik baru
itu dapat diharapkan lemparan sampai sejauh 130 meter. Atlet Hongaria, Ferenc
Faragi, pada rekor dunianya tahun 1980 berhasil melemparkan lembingnya sejauh
96,72 meter, suatu kemajuan hebta terhadap rekor-rekor pertama setelah lembing
dibakukan dengan panjang 2,60 m dan berat 800 gram.
2.2. Teknik Lempar Lembing
Sudah pada permulaan abad ini diketahui bahwa ancang-ancang,
memegang lembing kebelakang, dan langkah penghubung, membawa pelempar ke dalam
posisi menguntungkan. Langkah penghubung antara ancang-ancang dan lemparan,
yang disebut langkah pendorong (yang dulu masih disebut langkah silang),
dikembangkan oleh orang Swedia dan Finlandia. Langka itu menguntungkan bagi
kecepatan dan pelempar sampai dengan tungkai dan pingganganya sebelum lembing.
Dalam pada itu, sisi lemparnya dengan lengan terentangnya secara kendur, jauh
ketinggalan. Prinsip dasar teknik ini masih memberikan peluang bagi variasi
perseorangan. Walaupun demikian, pada teknik lempar lembing modern tidak banyak
berubah. Hanya pada persiapan lemparan dengan lengan lempar, tegangan tubuh,
dan ancang-ancang terdapat perbedaan antara teknik caliber dunia sekarang dan
teknik 50 tahun lalu. Maka itu, kemajuan prestasi yang eksplosif juga bukan
karena perbaikan teknik, melainkan karena kondisi pelempar dan perkembangan
materialnya.
2.2.1. Cara Memegang Lembing
Lembing dipegang di sisi belakang lilitan. Dengan itu dimungkinkan
pengalihan tenaga yang menguntungkandibelakang titik berat; selain itu, jari
mempunyai tempat pegangan lebih baik. Dibedakan tiga macam pegangan lembing:
1. Cara Finlandia dilakukan dengan cara memegang lembing pada
bagian belakang lilitan lembing dengan jari tengah dan ibu jari, sementara
telunjuk berada sepanjang batang lembing dan agak serong ke arah yang wajar,
jari-jari lainnya turut melingkar di badan lembing dengan longgar. Ini
adalah pegangan yang paling banyak digunakan, sebab dengan pegangan demikian
lembing dapat diarahkan dengan baik.
2. Cara Amerika dilakukan dengan cara memegang lembing dibagian belakang lilitan lembing
dengan jari telunjuk melingkar di belakang lilitan dan ibu jari menekannya di
bagian permukaan yang lain, sementara itu jari-jari turut melingkar di badan
lembing dengan longgar. Dengan pegangan ini, pada waktu pelemparan dapat cepat terjadi penyimpangan lembing ke samping, yang
sudah tentu merupakan kesalahan.
3.
Pada yang disebut “pegangan
tang”, lembing dipegang di antara telunjuk dan jari tengah (foto 4).
Dengan pegangan ini dicegah terjadinya luka pada siku, karena pelencangan
terlalu besar pada sendi itu menjadi terhalang (“pegangan kesehatan”). Tetapi
lilitan tipis seperti yang diharuskan, sering menyebabkan masalah pada waktu
pelemparan.
2.2.2. Cara Membawa Lembing
Membawa lembing adalah cara membawa dimulai saat mengambil awalan
sampai saat akan melempar.
· Tangan
pembawa lembing lurus ke belakang serong ke bawah, lembing dipegang di samping
badan segaris dan menempel pada lengan sedangkan ujung lembing di samping dada.
· Tangan
pembawa lembing ditekuk 900 , lembing dipegang setinggi telinga dan
tepat di atas bahu. Posisi lembing bisa horizontal, serong ke atas atau bawah.
· Tangan
pembawa lembing diangkat sedikit lebih tinggi dari kepala. Posisi lembing
mendatar atau serong.
2.2.3. Beberapa Hal Yang Hharus Di Perhatikan Dalam Lempar Lembing
Beberapa Hal Yang di Sarankan
· Memegang lembing sepanjang jalur lengan
· Melebarkan langkah terakhir dan membengkokkan
secara perlahan-lahan tungkai kanan
· Berlari lurus selama melakukan awalan
· Bawalah berat badan melewati tungkai belakang
· Dapatkan sebuah pilihan antara tubuh bagian atas
dan bagian bawah (bahu kiri dalam posisi tertutup)
· Luruskan lengan lempar dan telapak tangan lempar
dalam posisi menghadap keatas
· Langkahkan tungkai kiri jauh ke depan dan cakarkan
· Busungkan badan dalam posisi lempar dan bawalah
sikut keatas sewaktu melakukan lemparan.
Beberapa Hal Yang Harus di Hindari
· Memegang lembing dengan kepalan tangan penuh
(menggenggam)
· Meloncat ke atas pada langkah terakhir
· Melakukan dua kali atau lebih langkah silang
· Membawa ke dua bahu menghadap kedepan
· Pinggul di tekuk sehingga badan membungkuk ke depan
· Membengkokkan lengan lempar pada saat mulai
melakukan lemparan
· Penempatan kaki depan di tanah terlalu jauh ke
kiri
· Melempar berputar melalui samping kanan badan
2.2.4. Gaya Melempar Lembing
Untuk melakukan suatu lemparan diperlikan gaya,
yang dimaksud dengan gaya adalah sikap atlet dalam melakukan lemparan. Dalam
lempar lembing dikenal dua macam gaya melempar, yaitu :
a.
gaya menyamping (Hop step)
b.
gaya langkah silang (cross step)
Ø Langkah silang (cross step)
sebelum melempar
Langkah silang merupakan gaya
lempar lembing yang sering digunakan oleh atlet pelempar lembing. Gaya cross step ini berasal dari Finlandia sehingga banyak
yang menyebut dengan lempar lembing gaya
Finlandia. Cara lempar lembing gaya
Finlandia adalah sebagai berikut, setelah langkah awalan terakhir lakukan
langkah silang :
a.
langkahkan kaki kanan ke
depan menyilang kaki kiri. Bersamaan itu tangan kanan memegang lembing kemudian
turunkan dan serong ke bawah.
b.
Langkahkan kaki kiri ke depan
dengan tetap mempertahankan sikap tangan kanan.
c.
Lankahkan kaki kanan ke depan
menyilang kaki kiri.
d. Lankahkan kaki kiri ke depan selebar
mingkin saat telapak kaki tepat menginjak tanah, putar pinggan ke depan bersamaan
tangan kanan ditarik ke depan atas.
Ø Lentingan
badan dan tangan saat melempar
Cara melakukannya adalah :
a.
Sikap terakhir langkah silang
merupakan kelanjutan untuk lempar atau sikap melempar.
b.
Jika pelempar menggunakan
tangan kanan, kaki kanan di luruskan ke belakang, kaki kiri berada di depan dan
lutut ditekuk.
c.
Siku tangan pembawa lembing
ditekuk dan diteruskan memutar badan secara cepat untuk memperoleh lemparan
yang baik dan sejauh-jauhnya.
d. Bersamaan dengan memutar badan ke arah
sektor lemparan, lembing dilemparkan dengan cepat.
Ø Sikap
akhir setelah melempar
Gerak ikutan atau follow through dilakukan dengn cara :
· Sikap badan menghadap ke arah lemparan lembing,
kaki kanan jatuh ke depan mengganti posisi kiri.
· Kaki kiri ke belakang menjaga keseimbangan
sedangkan tubuh condong ke depan.
Melakukan gerak ikutan dalam lempar lembing
bertujuan untuk :
· membantu kekuatan lemparan.
· Menjaga keseimbangan agar badan tidak melalui
garis batas.
Ø Ukuran
dan Lapangan Lempar Lembing
Ukuran Lembing
No
|
Atlet
|
Panjang
|
Berat
|
Lilitan
|
1
|
Putra
|
260 cm - 270 cm
|
700 gram - 800 gram
|
15 cm - 16 cm
|
2
|
Putri
|
220 cm - 230 cm
|
600 gram
|
14 cm - 15 cm
|
Keterangan
Ø Lebar awalan = 4 m
Ø Panjang awalan = 30 m - 36,5 m
Ø BC merupakan busur, jari-jari
AB=AC=8 m
Ø Lebar garis lurus sisi kanan
dan kiri = 11/2 m
Ø Lebar garis lempar = 7 m

Tidak ada komentar:
Posting Komentar