2.1. Pengertian Tolak Peluru
Tolak Peluru Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga ATLETIK. Atlet tolak
peluru melemparkan bola besi yang berat sejauh mungkin. Berat peluru :
- Untuk Senior Putra = 7.257 kg
- Untuk Senior Putri = 4 kg
- Untuk Junior Putra = 5 kg
- Untuk Junior Putri = 3 kg
Terdapat beberapa teknik dasar dalam
tolak peluru, diantaranya : Teknik Memegang Peluru Ada 3 teknik memegang
peluru : Jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk
dan berada di samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya. Untuk
orang yang berjari kuat dan panjang. Jari-jari agaka rapat, ibu jari di
samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru. Biasa dipakai oleh
para juara. Seperti cara diatas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan
lagi, sedangkan letak jari kelingking berada di belakang peluru. Cocok untuk
orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya kecil.
Teknik Meletakkan Peluru Pada Bahu
Peluru dipegang dengan salah satu cara diatas, letakkan peluru pada bahu dan
menempel pada leher bagian samping. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke
samping dan tangan satunya rileks di samping kiri badan.
Teknik Menolak Peluru Pengenalan peluru Peluru dipegang dengan satu tangan dipindahkan ke tangan yang lain Peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan cara yang benar Peluru dipegang dengan dua tangan dengan sikap berdiri akak membungkuk, kemudian kedua tangan yang memegang peluru diayunkan ke arah belakang dan peluru digelindingkan ke depan Sikap awal akan menolak peluru Mengatur posisi kaki, kaki kanan ditempatkan di muka batas belakang lingkaran, kaki kiri diletakkan di samping kiri selebar badan segaris dengan arah lemparan. Bersamaan dengan ayunan kaki kiri, kaki kanan menolak ke arah lemparan dan mendarat di tengah lingkaran. Sewaktu kaki kaki kanan mendarat, badan dalam keadaan makin condong ke samping kanan. Bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri. Lengan kiri masih pada sikap semula.
Teknik Menolak Peluru Pengenalan peluru Peluru dipegang dengan satu tangan dipindahkan ke tangan yang lain Peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan cara yang benar Peluru dipegang dengan dua tangan dengan sikap berdiri akak membungkuk, kemudian kedua tangan yang memegang peluru diayunkan ke arah belakang dan peluru digelindingkan ke depan Sikap awal akan menolak peluru Mengatur posisi kaki, kaki kanan ditempatkan di muka batas belakang lingkaran, kaki kiri diletakkan di samping kiri selebar badan segaris dengan arah lemparan. Bersamaan dengan ayunan kaki kiri, kaki kanan menolak ke arah lemparan dan mendarat di tengah lingkaran. Sewaktu kaki kaki kanan mendarat, badan dalam keadaan makin condong ke samping kanan. Bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri. Lengan kiri masih pada sikap semula.
Cara menolakkan peluru Dari sikap
penolakan peluru, tanpa berhenti harus segera diikuti dengan gerakan menolak
peluru. Jalannya dorongan atau tolakan peda peluru harus lurus satu garis.
Sudut lemparan kurang dari 40 derajat. Sikap akhir setelah menolak peluru
Sesudah menolak peluru, membuat gerak lompatan untuk menukar kaki kanan ke
depan. Bersamaan dengan mendaratnya kaki kanan, kaki kiri di tarik ke belakang
demikian pula dengan lengan kiri untuk memelihara keseimbangan.
2.2.1. Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam
Teknik Tolak Peluru
Cara memegang Awalan Gerakan Tolakan Sikap badan saat
menolak
Ketentuan diskualifikasi/kegagalan peserta tolak peluru :
Ketentuan diskualifikasi/kegagalan peserta tolak peluru :
A.
Menyentuh balok batas sebelah atas
B.
Menyentuh tanah di luar lingkaran
C.
Keluar masuk lingkaran dari muka garis tengah
D.
Dipangil selama 3 menit belum menolak
E.
Peluru di taruh di belakang kepala
F.
Peluru jatuh di luar sektor lingkaran
G.
Menginjak garis lingkar lapangan
H.
Keluar lewat depan garis lingkar
I.
Keluar lingkaran tidak dengan berjalan tenang
J.
Peserta gagal melempar sudah 3 kali lemparan
Beberapa hal yang disarankan : Bawalah tungkai kiri
merendah Dapatkan keseimbangan gerak dari kedia tungkai, dengan tungkai kiri
memimpin di belekang Menjaga agar bagian atas badan tetap rileks ketika bagian bawah
bergerak Hasilkan rangkaian gerak yang cepat dan jauh peda tungkai kanan Putar
kaki kanan ke arah dalam sewaktu melakukan luncuran Pertahankan pinggul kiri
dan bahu menghadap ke belakang selama mungkin Bawalah tangan kiri dalam sebuah
posisi mendekati badan Tahanlah sekuat-kuatnya dengan tungkai kiri.
Beberapa hal yang harus dihindari : Tidak memiliki
keseimbanagn dalam sikap permulaan Melakukan lompatan ketika meluncur dengan
kaki kanan Mengangkat badan tinggi ketika melakukan luncuran Tidak cukup jauh
menarik kaki kanan di bawah badan Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke
belakang Menggerakkan tungkai kiri terlalu banyak ke samping Terlalu awal
membuka badan Mendarat dengan badan menghadap ke samping atau ke depan.
2.2.2. Cara Mengambil Awalan (Ancang-Ancang)
·
Cara menyamping (ortodoks)
Bila menggunakan gaya ortodoks, sikap badan menyamping arah
tolakan mulai dari sikap permulaan sampai dengan bergerak ke depan untuk
menolakkan peluru.
·
Cara membelakangi lawan (O’Brien)
Bila menggunakan gaya O’Brien, sikap badan membelakangi arah
tolakan mulai dari sikap permulaan sampai dengan bergerak ke depan untuk
menolakkan peluru.
Gaya tolak peluru denagn membelakangi itu disebut juga gaya O’Brien, karena orang yang pertama kali mempergunakan dan sekaligus memperkenalkan gaya tersebut bernama Parry O’Brien. Gaya tersebut dipergunakan pada saat penyelenggaraan Olimpiade Helsinky pada tahun 1952.
Gaya tolak peluru denagn membelakangi itu disebut juga gaya O’Brien, karena orang yang pertama kali mempergunakan dan sekaligus memperkenalkan gaya tersebut bernama Parry O’Brien. Gaya tersebut dipergunakan pada saat penyelenggaraan Olimpiade Helsinky pada tahun 1952.
2.2.3. Teknik Sikap Badan Pada Waktu Akan Menolak
Terdapat
2 teknik sikap badan pada waktu akan menolak, yaitu:
·
Gaya ortodok (menyamping)
Berdiri
tegak menyamping kea rah tolakan, kedua kaki dibuka lebar (kangkang), kaki kiri
lurus ke depan, kaki kanan dibengkokkan ke depan, sedikit serong ke samping
kanan, berat badan berada pada kaki kanan, dan badan agak condong ke samping
kanan. Tangan kanan memegang peluru pada bahu (pundak), tangan kiri
dibengkokkan, berada di depan sedikit agak serong ke atas lemas. Tangan kiri
berfungsi untuk membantu dan menjaga keseimbangan. Pandangan diarahkan kea rah
sasaran (tolakan).
·
Gaya O’Brien (membelakangi)
Hal yang membedakan antara gaya ortodoks dan gaya O’Brien
adalah sikap awal. Pada gaya ortodoks sikap badan menyamping, sedangkan pada
gaya O’Brien membelakangi arah.
2.2.4. Teknik Setelah Gerakan Akhir
Menolak
Teknik
setelah gerakan akhir menolak, yaitu:
·
Setelah peluru lepas dari tangan, secepatnya kaki belakang
diturunkan atau mendarat menempati tempat kaki depan/kaki tumpu dengan lutut
agak dibengkokkan.
·
Selanjutnya kaki tumpu diangkat ke belakang lururs dan lemas
untuk membantu menjaga keseimbangan.
·
Badan condong ke samping kiri depan, dagu diangkat,
pandangan ke arah jatuhnya peluru.
·
Tangan kanan dibengkokkan berada di depan sedikit agak ke
bawah badan, tangan atau lengan kiri lemas lurus ke belakang untuk membantu
menjaga keseimbangan.
2.2.5.
Peralatan Alat Yang
Di Gunakan
-
Rol Meter
-
Bendera Kecil
-
Kapur / Tali Rafia
-
Peluru
a. Untuk Senior Putra = 7.257 kg
b. Untuk Senior Putri = 4 kg
c. Untuk Junior Putra = 5 kg
d. Untuk Junior Putri = 3 kg
2.2.6.
Lapangan Tolak Peluru
1. Lingkaran tolak peluru harus dibuat
dari besi, baja ata bahan lain yang cocok yang dilengkungkan,
bagian atasnya harus rata dengan permukaan tanah luarnya. Bagian dalam
lingkaran tolak dibuat dari emen , aspal atau bahan lain yang padat tetapi
tidak licin. Permukaan dalam lingkaran tolak harus datar anatara 20 mm sampai 6
mm lebih rendah dari bibir atas lingkaran besi.
2. Garis lebar 5 cm harus dibuat di
atas lingkaran besi menjulur sepanjang 0.75 m pada kanan kiri lingkaran
garis ini dibuat dari cat atau kayu.
3. Diameter bagian dalam lingkaran
tolak adalah 2,135 m. Tebal besi lingkaran tolak minimum 6 mm dan harus
di cat putih.
4. Balok penahan dibuat dari kayu atau bahan lain yang sesuai
dalam sebuah busur/lengkungan sehingga tepi dalam berhimpit dengan tepi dalam
lingkaran tolak, sehingga lebih kokoh.
5. Lebar balok 11,2-30 cm, panjangnya
1,21-1,23 m di dalam, tebal 9,8-10,2 cm.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar